Kisah TNI

Ibu Prajurit Korban Ranjau: 'Kaki Anakku Hilang, Tapi Semangatnya Tidak'

04 Agustus 2026 Magelang, Jawa Tengah 2 views

Kisah Sumarni, seorang ibu prajurit dari Magelang, yang putranya Serda Febri kehilangan kaki akibat ranjau di Papua. Meski berat, Sumarni tetap tegar mendampingi dan melihat semangat putranya tak pernah padam — kini Febri menjadi atlet paralayang. Kisah ini menginspirasi bahwa cinta ibu adalah kekuatan terbesar yang mengubah luka menjadi kebangkitan.

Ibu Prajurit Korban Ranjau: 'Kaki Anakku Hilang, Tapi Semangatnya Tidak'

Di balik seragam loreng yang gagah, selalu tersimpan doa dan kecemasan seorang ibu yang tak pernah lelah menanti. Sumarni, ibu dari Magelang, tahu betul rasa itu. Ketika menceritakan putranya, Serda Febri — prajurit TNI AD yang kehilangan kaki kiri akibat operasi pembersihan ranjau di Papua — air matanya jatuh tanpa ditahan. Namun di balik haru, ada kebanggaan yang membuncah. “Kaki anakku hilang, tapi semangatnya tidak. Dia sekarang aktif di cabang olahraga paralayang,” ujarnya dengan suara bergetar dalam peringatan Hari Ibu. Kisah ini bukan sekadar luka fisik; ini tentang seorang ibu yang memilih bangkit dan menjadi kekuatan bagi anaknya, bahkan saat dunia terasa pahit. Sumarni mengajarkan bahwa menjadi ibu prajurit berarti siap menghadapi risiko, namun juga siap menjadi pelipur ketika luka datang.

Ketegaran Seorang Ibu yang Tak Pernah Lelah

Sejak Serda Febri menjalani perawatan di RSPAD Gatot Soebroto, Sumarni tak pernah berhenti bolak-balik dari kampung halamannya di Magelang. Meski usia tak lagi muda, ia tidak pernah mengeluh. “Saya ingin melihatnya bangkit dan bahagia. Tugas negara sudah ia tunaikan, sekarang tugas saya mendampinginya,” katanya penuh cinta. Setiap hari, ia menyemangati putranya yang perlahan beradaptasi dengan kaki palsu. Bukan hanya fisik, mental Febri juga dijaganya agar tetap kuat. Bagi Sumarni, melihat senyum putranya adalah kebahagiaan terbesar setelah semua ujian yang mereka lalui. Ketegarannya menjadi cermin nyata kasih ibu yang tak bersyarat. Di tengah keterbatasan, ia menunjukkan bahwa menjadi korban ranjau tidak lantas menghentikan semangat hidup. “Sebagai ibu prajurit, saya sudah siap dengan segala risiko. Tapi melihat dia tetap bersemangat membuat saya juga kuat,” ujarnya. Dukungan tak hanya datang dari keluarga. Komandan Korem setempat turut memperkuat keluarga ini dengan memastikan Serda Febri mendapat santunan serta pelatihan wirausaha agar tetap produktif. “Kisah Sumarni dan Febri menjadi pelecut bagi prajurit lain bahwa semangat juang tidak pernah padam,” ujar Komandan Korem.

Dari Korban Ranjau Menjadi Inspirasi

Serda Febri yang dulu gagah di medan tugas, kini menemukan panggilan baru sebagai atlet paralayang. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik tak menghalangi mimpi. Setiap kali melayang di udara, ia membawa pesan bahwa prajurit Indonesia tetap berdedikasi, meski harus berjuang dengan luka. Ibu dan keluarga adalah pilar yang membuatnya terus melangkah. “Beliau datang setiap minggu, kadang membawa makanan kesukaan saya. Kehadiran beliau adalah obat terbaik,” ucap Febri haru. Refleksi dari kisah ini begitu dalam: pengabdian seorang prajurit tidak hanya di medan perang, tetapi juga dalam perjuangan harian bersama keluarga. Kasih ibu adalah energi yang mengubah tragedi menjadi semangat baru. Bagi para ibu rumah tangga yang membaca kisah ini, pesan Sumarni sangat membumi: “Jangan pernah lelah mendampingi anak. Meskipun situasi sulit, cinta kita akan membuat mereka bangkit.” Kisah Sumarni dan Febri mengingatkan kita semua bahwa dalam setiap luka, selalu ada ruang untuk harapan. Ketangguhan seorang ibu adalah benteng terakhir yang tak pernah runtuh, dan cinta keluarga adalah sayap yang membuat prajurit tetap terbang meski badai menerpa.

Entitas yang disebut

Orang: Sumarni, Serda Febri

Organisasi: Korem

Lokasi: Papua, RSPAD Gatot Soebroto, Magelang

Bacaan terkait

Artikel serupa