Kisah TNI
Haru Istri Sertu Eko Prasetyo Sambut Kepulangan Suami dari Papua, Anak Bungsu Tak Lepas Peluk
Setelah sepuluh bulan bertugas di Papua, Sertu Eko Prasetyo disambut haru oleh istri dan anak-anaknya di Bandara Juanda. Momen paling mengharukan terjadi saat si bungsu yang berusia tiga tahun begitu erat memeluk ayahnya dan tak mau dilepaskan, menjadi simbol kemenangan cinta atas jarak dan waktu.
Pintu kedatangan Bandara Internasional Juanda, Surabaya, siang itu menjadi saksi bisu sebuah reuni yang sangat dinantikan. Di tengah hiruk-pikuk penjemput, tampak sosok Rina, istri dari Sertu Eko Prasetyo, berusaha menenangkan dua anak kecil yang tak henti memandangi pintu keluar. Mata mereka berbinar setiap kali pintu terbuka, menanti wajah yang sudah sepuluh bulan hanya terlihat lewat layar ponsel. Begitu sosok tegap berseragam itu muncul, kedua anak itu langsung berlari sekuat tenaga, meneriakkan “Ayah!”. Tanpa ragu, mereka menghambur ke pelukan sang ayah yang juga tak kuasa menahan air mata. Momen itu seakan menghentikan waktu, menyatukan kembali jiwa-jiwa yang sempat terpisah oleh tugas negara di tanah Papua. Kepulangan ini bukan hanya pertanda berakhirnya misi, melainkan perayaan cinta yang mengalahkan jarak dan waktu.
10 Bulan Menanti dalam Doa dan Kekhawatiran
Bagi Rina, masa penugasan suaminya di Papua bukanlah waktu yang mudah. Setiap hari, ia harus memainkan peran ganda: menjadi ibu yang menghibur anak-anak yang kerap bertanya tentang ayah, sekaligus menjadi sandaran emosional bagi dirinya sendiri. Berita-berita dari daerah operasi sering kali membuat hatinya berdebar, namun ia harus tetap tegar di depan anak-anak. “Setiap malam, kami selalu berdoa bersama, meminta ayah pulang dalam keadaan selamat,” tutur Rina lirih, mengenang malam-malam panjang yang dilaluinya. Dukungan dari sesama istri prajurit menjadi penghiburan, tetapi tak ada yang bisa menggantikan kehadiran suami di sisi keluarga. Bagi para istri prajurit, kekhawatiran adalah teman sehari-hari, dan ketegaran adalah pakaian yang harus selalu dikenakan demi menjaga kehangatan rumah yang dirindukan.
Pelukan yang Tak Ingin Dilepaskan
Dari semua adegan mengharukan hari itu, yang paling menyentuh hati adalah ketika si bungsu yang baru berusia tiga tahun begitu erat memeluk leher ayahnya. Bocah kecil itu tak mau turun dari gendongan, seolah ingin memastikan bahwa sang ayah benar-benar telah pulang dan tak akan pergi lagi. Sertu Eko Prasetyo pun hanya tersenyum lembut, sesekali mencium kening anaknya sementara air matanya menetes. Momen reuni sederhana ini menggambarkan betapa besar pengorbanan yang harus dibayar oleh keluarga prajurit—pengorbanan waktu, kehadiran, dan kebersamaan yang tak ternilai harganya. Bagi Eko, pelukan hangat anak-anaknya adalah obat mujarab yang meluruhkan segala lelah dan beban tugas negara di pedalaman Papua. Dari pelukan itu, terpancar jelas bahwa ikatan batin antara ayah dan anak tidak akan pernah luntur, meski terhalang oleh hutan belantara sekalipun.
Kepulangan ini bukan sekadar penanda akhir penugasan, melainkan kemenangan sebuah keluarga atas ujian waktu dan jarak. Rina, dengan mata berkaca-kaca, mengungkapkan rasa syukurnya, “Ini adalah hadiah terindah bagi kami. Setelah berbulan-bulan berpisah, akhirnya kami bisa kembali utuh.” Reuni ini juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap prajurit yang berdiri di garis depan, ada keluarga yang menjadi pilar kekuatan. Mereka adalah para istri yang setia menunggu, anak-anak yang merindukan cerita sebelum tidur, dan rumah yang selalu menyimpan doa terbaik. Ketabahan mereka adalah fondasi yang memungkinkan para prajurit tetap fokus menjalankan tugas kemanusiaan. Kisah Sertu Eko dan keluarganya adalah potret nyata bahwa cinta dan pengorbanan selalu berjalan beriringan, menjadikan setiap reuni sebagai perayaan kehidupan yang tak ternilai. Bagi para ibu dan istri di rumah, cerita ini adalah cermin bahwa di balik layar perjuangan, ada hati yang tak pernah berhenti menanti dan berdoa untuk sebuah reuni yang menyembuhkan.
Entitas yang disebut
Orang: Eko Prasetyo, Rina
Organisasi: TNI AD
Lokasi: Bandara Juanda, Surabaya, Papua