Kisah TNI
Dokter Militer di Pulau Terluar: Setahun Tak Jumpa Anak, Hanya Via Video Call
Kisah pilu Mayor Kes dr. Larasati, seorang dokter militer yang bertugas di Pulau Morotai, harus rela berpisah dengan putri dan suaminya selama setahun. Hanya melalui video call yang sering terputus sinyal, ia bisa menatap wajah buah hatinya, namun pengorbanan ini adalah bentuk cinta dan baktinya kepada negara. Kisah ini menjadi pengingat tentang ketahanan emosional keluarga prajurit dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
Sahabat keluarga, pernahkah kita membayangkan harus berpisah dengan buah hati tercinta selama setahun penuh? Itulah yang dialami oleh Mayor Kes dr. Larasati, seorang dokter militer yang tengah bertugas di Puskesmas militer di Pulau Morotai, Maluku Utara. Di balik seragam putih dan pengabdiannya menjaga kesehatan di pulau terpencil, tersimpan kisah pilu sekaligus membanggakan yang jarang tersorot. Selama setahun, ia harus rela berpisah dengan putri semata wayangnya yang masih berusia 5 tahun dan suami tercinta. Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi abdi negara tak hanya soal tugas, tetapi juga tentang pengorbanan dan cinta yang tak terbatas.
Setiap minggu, dr. Larasati hanya bisa menatap wajah buah hatinya melalui layar ponsel. Momen video call yang ia nanti-nantikan seringkali diganggu oleh sinyal yang tak menentu di pulau terpencil ini. Tak jarang, momen berharga itu berakhir dengan tangis putrinya yang keras. "Awalnya berat, anak saya menangis setiap kali panggilan berakhir. Tapi sekarang dia sudah mulai mengerti," cerita Larasati dengan mata berkaca-kaca. Di momen-momen seperti itu, ia harus menahan perasaan, meyakinkan hati kecilnya bahwa semua ini adalah bagian dari panggilan jiwa. Sementara itu, di rumah, suaminya yang berprofesi sebagai wiraswasta harus mengambil cuti panjang demi mengasuh anak sepenuhnya. Dukungan dari keluarga menjadi fondasi yang membuat sang dokter militer tetap tegar menjalankan tugas. Rasa cemas dan rindu tak bisa dihindari, apalagi saat putrinya sakit atau merayakan momen-momen kecil tanpa kehadiran sang ibu.
Momen Berharga di Tengah Keterbatasan
"Pernah pas ulang tahunnya, saya hanya bisa kirim kado lewat pos dan bernyanyi selamat ulang tahun lewat telepon. Suara putus-putus, tapi dia tetap senang," kenang dr. Larasati sambil tersenyum getir. Ia pun bersyukur suaminya sangat pengertian dan mampu menjadi "ibu" sekaligus "ayah" bagi putri mereka. Peran ganda itu memang melelahkan, namun semangat kebersamaan membuat mereka tetap kuat. Di Pulau Morotai, dr. Larasati tak hanya berurusan dengan pasien malaria atau diare, tetapi juga harus menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan alat. Namun setiap kali ia merasa lelah, bayangan wajah putrinya yang tersenyum di layar ponsel menjadi penguat. Ia percaya bahwa apa yang ia lakukan hari ini akan menjadi cerita berharga bagi buah hatinya kelak—tentang seorang ibu yang rela berkorban demi negara.
Bersyukur dan Bangga di Tengah Pengorbanan
Meski perasaan rindu dan cemas tak bisa dihindari, dr. Larasati memilih untuk bersyukur. Ia sadar, setiap tetes pengorbanan yang ia lakukan adalah wujud bakti kepada negara. Satuan tempatnya bertugas juga turut meringankan beban dengan memberikan bantuan logistik serta fasilitas komunikasi agar hubungan dengan keluarga tetap terjalin. "Saya bangga bisa melayani masyarakat di pelosok, walau harus mengorbankan waktu dengan buah hati. Ini panggilan jiwa," tegasnya. Kisah ini menjadi potret ketulusan seorang perempuan yang berdiri di garis depan sambil memendam rindu. Ia adalah bukti bahwa cinta seorang ibu dan istri mampu melampaui jarak dan keterbatasan. Bagi kita para ibu dan keluarga, kisah dr. Larasati mengajarkan bahwa pengabdian tak selalu mudah, namun ketegaran dan dukungan keluarga mampu membuat semuanya terasa ringan. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua untuk lebih menghargai setiap momen kebersamaan dengan keluarga, serta mendoakan para prajurit yang tengah bertugas di pulau terpencil.
Entitas yang disebut
Orang: Larasati
Organisasi: TNI AD
Lokasi: Pulau Morotai, Maluku Utara