Inspirasi

Prajurit Wanita TNI AL yang Bertugas 7 Bulan di Kapal Rumah Sakit KRI Dr. Soeharso: Dilema Tinggalkan Anak Balita Demi Misi Kemanusiaan

07 Agustus 2026 Kepulauan Aru, Maluku 4 views

Letda dr. Maya Susanti, seorang ibu sekaligus prajurit TNI AL, harus meninggalkan putrinya yang masih balita selama 7 bulan untuk bertugas dalam misi kemanusiaan di KRI Dr. Soeharso. Dukungan penuh sang suami dan momen video call mingguan menjadi penopangnya saat rindu. Kisah ini menunjukkan bahwa pengabdian pada negara tidak mengurangi cinta seorang ibu, justru menguatkan arti pengorbanan keluarga.

Prajurit Wanita TNI AL yang Bertugas 7 Bulan di Kapal Rumah Sakit KRI Dr. Soeharso: Dilema Tinggalkan Anak Balita Demi Misi Kemanusiaan

Menjadi seorang ibu sekaligus prajurit TNI AL bukanlah jalan yang mudah. Di balik seragam putih dan tugas negara yang megah, ada perasaan yang mungkin sangat dekat dengan kita para ibu: rasa cemas saat meninggalkan si kecil, dan air mata yang jatuh diam-diam di malam hari. Inilah kisah Letda Kesehatan Laut dr. Maya Susanti (29), seorang perwira wanita yang harus menghadapi dilema besar ketika meninggalkan putrinya yang masih balita selama tujuh bulan penuh untuk menjalankan misi kemanusiaan.

Dilema Seorang Ibu di Tengah Panggilan Negara

Bagi Maya, keputusan untuk berangkat bukanlah hal yang mudah. Putrinya yang berusia 2,5 tahun masih sangat membutuhkan kehadiran seorang ibu. Apalagi, malam sebelum keberangkatan, sang buah hati justru jatuh sakit demam. “Saya ingin batal berangkat, tapi suami saya bilang, ‘Kamu dokter TNI, ada ribuan ibu dan anak di pulau terpencil yang lebih membutuhkanmu,’” kenang Maya. Kata-kata sang suami, seorang PNS di Surabaya, menjadi penopang di saat hatinya hampir goyah. Dukungan penuh pun diberikan sang suami yang rela mengambil cuti panjang untuk mengasuh putri mereka selama sang istri bertugas di KRI Dr. Soeharso.

Antara Rindu dan Pengabdian di Ujung Negeri

Selama tujuh bulan mengarungi lautan menuju Kepulauan Aru dan Maluku Barat Daya, Maya memimpin tim medis yang melayani lebih dari 3.000 warga. Setiap hari ia menyembuhkan para ibu dan anak yang selama ini sulit mendapatkan akses kesehatan. Namun, di balik senyum profesionalnya, setiap malam ia menangis diam-diam di kabinnya sambil menonton video anaknya yang dikirim sang suami. Rasa rindu itu terasa begitu nyata. Faktor pendukung utama datang dari Jalasenastri yang mengirimkan paket kebutuhan anak dan mainan, serta menyediakan fasilitas video call khusus seminggu sekali. Momen singkat itulah yang menjadi vitamin bagi hati seorang ibu dan prajurit.

Kisah Maya mengingatkan kita bahwa menjadi prajurit wanita bukan berarti meninggalkan peran sebagai ibu. Justru, pengorbanan ini adalah bentuk cinta yang paling dalam. “Saya ingin anak saya kelak mengerti bahwa ibunya pergi bukan karena tidak sayang, tapi karena ada panggilan lebih besar: menyelamatkan nyawa ibu dan anak di tempat yang paling sulit dijangkau,” ujar Maya dengan mantap. Kisah ini menjadi cermin bagi kita semua: bahwa di balik setiap misi kemanusiaan, ada keluarga yang turut berjuang dalam diam, menahan rindu, dan memeluk harapan.

Entitas yang disebut

Orang: Maya Susanti

Organisasi: TNI AL, Jalasenastri

Lokasi: Surabaya, Kepulauan Aru, Maluku Barat Daya

Bacaan terkait

Artikel serupa