Inspirasi
Prajurit TNI AL di Surabaya Pulihkan Trauma Anak Korban Banjir Lewat Dongeng dan Permainan
Prajurit TNI AL di Surabaya membantu memulihkan trauma anak-anak korban banjir melalui dongeng dan permainan tradisional. Program ini menyentuh sisi humanis prajurit yang juga merasakan rindu pada keluarga di rumah. Kegiatan ini menjadi contoh nyata tanggung jawab sosial yang hangat dan membumi, mengembalikan senyum dan harapan bagi anak-anak dan ibunya.
Banjir besar yang melanda permukiman di Surabaya beberapa waktu lalu tidak hanya meninggalkan genangan air dan lumpur, tetapi juga luka batin yang mendalam, terutama bagi anak-anak kecil yang menyaksikan rumah mereka terendam. Ketakutan dan kecemasan masih terbayang di mata mereka saat berada di posko pengungsian. Namun, secercah harapan hadir lewat kehadiran para prajurit TNI AL dari Lantamal V. Mereka tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga berinisiatif memulihkan trauma psikologis anak-anak melalui dongeng dan permainan tradisional. Ini adalah bentuk tanggung jawab sosial yang menyentuh sisi paling manusiawi dari sebuah bencana.
Senyum Kembali untuk Buah Hati
Di tengah hiruk-pikuk pengungsian, Serka Bimo, seorang prajurit yang ternyata memiliki latar belakang pendidikan psikologi anak, menggagas program trauma healing. Dengan sabar, ia dan rekannya mendatangi posko, membawa buku cerita bergambar dan alat permainan tradisional seperti congklak dan egrang. Mereka duduk di lantai beralas tikar, mendongeng tentang pahlawan kecil yang berani menghadapi badai. Anak-anak yang tadinya murung mulai tersenyum, bahkan tertawa lepas saat diajak bermain. "Melihat mereka kembali ceria, hati kami ikut terharu. Ini yang membuat lelah kami terbayar," ujar Serka Bimo dengan mata berbinar. Ibu-ibu yang sejak banjir dilanda cemas kini merasa sangat terbantu. Seorang ibu, Bu Ratna, mengaku anaknya yang berusia 6 tahun sering terbangun tengah malam menangis ketakutan. "Setelah ikut kegiatan ini, dia mulai mau bercerita dan tersenyum lagi. Saya bersyukur ada prajurit yang peduli pada perasaan anak-anak," katanya lirih. Program trauma healing berbasis dongeng dan permainan ini membuktikan bahwa tanggung jawab sosial TNI AL tidak hanya soal fisik, tetapi juga menyentuh batin masyarakat.
Lebih dari Sekadar Tugas
Komandan Lantamal V menegaskan bahwa tugas TNI AL tidak hanya di laut, tetapi juga memiliki kepedulian untuk membantu memulihkan kondisi psikologis masyarakat, terutama anak-anak, pasca bencana. Inisiatif humanis ini menuai pujian dari warga dan pemerintah setempat. Seorang pejabat kelurahan menyebut aksi ini sebagai contoh nyata tanggung jawab sosial yang hangat dan membumi. "Kami tidak hanya melihat prajurit sebagai petugas, tapi sebagai sahabat dan pelindung," ujarnya. Di balik seragam loreng, para prajurit ini adalah juga ayah dan suami yang merasakan rindu saat harus meninggalkan keluarga demi tugas. Mereka tahu betul bagaimana rasanya cemas saat buah hati menangis di tengah malam, karena di rumah mereka sendiri, anak-anak mereka juga menanti kehadiran ayah. Namun, melihat senyum anak-anak korban banjir di Surabaya, mereka merasa bahwa pengorbanan itu berarti.
Bagi para ibu di pengungsian, kehadiran prajurit TNI AL yang peduli pada perasaan anak-anak mereka menjadi oase di tengah kekeringan trauma. Mereka tidak hanya membersihkan lumpur, tetapi juga mengusap air mata dan mengembalikan tawa yang sempat hilang. Kisah ini menjadi pengingat bahwa benteng terkuat sebuah bangsa bukan hanya senjata, melainkan juga hati yang peduli pada sesama. Di balik setiap senyum yang kembali merekah di wajah anak-anak Surabaya, ada doa dari istri dan anak prajurit di rumah yang menguatkan langkah mereka. Inilah wujud tanggung jawab sosial yang lahir dari rasa cinta pada keluarga besar Indonesia.
Entitas yang disebut
Orang: Serka Bimo
Organisasi: TNI AL, Lantamal V
Lokasi: Surabaya