Keluarga

Ibu 80 Tahun di Lombok Setia Menunggu Pulangnya Anak Prajurit TNI yang Bertugas di Kapal Perang

10 Agustus 2026 Lombok, Nusa Tenggara Barat 1 views

Ibu Sari (80) di Lombok telah menanti kepulangan anak bungsunya, Praka Wira, prajurit TNI AL yang bertugas di kapal perang selama delapan bulan. Setiap sore ia duduk di teras, ditemani tetangga dan kabar melalui telepon yang menjadi penghiburnya. Kunjungan dari Danlanal Lombok membawa kabar baik dan bantuan sembako, menguatkan bahwa keluarga prajurit tidak sendiri dalam penantian penuh cinta ini.

Ibu 80 Tahun di Lombok Setia Menunggu Pulangnya Anak Prajurit TNI yang Bertugas di Kapal Perang

Setiap menjelang senja, pemandangan sederhana namun penuh makna terlihat di sebuah rumah sederhana di Lombok. Ibu Sari (80), seorang ibu yang telah lanjut usia, duduk setia di teras rumahnya. Matanya yang mulai rabun terus menatap ke arah jalan setapak, seperti berharap sosok yang dinantikan segera muncul. Penantian ini sudah berlangsung selama delapan bulan, sejak anak bungsunya, Praka Wira, bertugas sebagai prajurit TNI AL di sebuah kapal perang yang berlayar jauh. Bagi Ibu Sari, menunggu bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan bagian dari cinta ibu yang tak pernah padam—cinta yang ia wujudkan dalam kesetiaan dan doa setiap hari. Bagi seorang orang tua, menanti kabar dari anak yang berjuang di medan tugas adalah oksigen yang menguatkan jiwa.

Penantian yang Diringankan oleh Kasih Tetangga dan Suara dari Jauh

Hari-hari Ibu Sari tidak sepi begitu saja. Para tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya di Lombok sering datang untuk menemani dan menghiburnya. Mereka tahu betapa dekatnya hubungan Ibu Sari dengan Wira. Sebagai anak bungsu, Wira memang sangat dekat dengan ibunya. Bahkan sebelum berangkat tugas, Wira memastikan segala kebutuhan ibunya terpenuhi. Ia juga selalu menyempatkan diri menelepon dari kapal saat ada kesempatan, sekadar untuk mendengar suara sang ibu dan meyakinkan bahwa ia dalam keadaan baik. “Suara Wira di telepon adalah penghiburan terbesar saya,” ujar Ibu Sari dengan mata berkaca-kaca. Suara itulah yang menjadi penopang di tengah rasa rindu dan cemas yang kadang menyergap malam hari. Kehangatan dari tetangga dan kabar dari jauh membuat penantian ini terasa lebih ringan, meski tak pernah benar-benar hilang rasa ingin berpelukan langsung dengan sang anak.

Kejutan Hangat dari Danlanal Lombok: Bukti Mereka Tidak Sendirian

Kisah kesetiaan Ibu Sari pun terdengar hingga ke telinga Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Lombok. Prihatin dan terharu, beliau bersama jajarannya memutuskan untuk melakukan kunjungan langsung ke rumah ibu yang tegar ini. Kunjungan tersebut menjadi kejutan yang sangat mengharukan bagi Ibu Sari. Mereka menyampaikan kabar baik: Wira dalam keadaan sehat dan selamat dalam tugasnya. Selain itu, Danlanal Lombok juga memberikan bantuan sembako sebagai bentuk perhatian dan penghargaan kepada orang tua prajurit yang setia menanti. Ibu Sari merasa sangat tersentuh. Kunjungan ini menjadi penguat bahwa ia tidak sendirian dalam penantiannya. Ada negara, ada rekan-rekan suami-istri prajurit, dan ada uluran tangan yang menopang keluarga yang ditinggalkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian seorang prajurit bukan hanya soal tugas di medan, tetapi juga tentang jaringan dukungan yang melingkupi keluarganya di rumah. Bagi Ibu Sari, kehadiran Danlanal membawa secercah harapan baru, bahwa anaknya tidak hanya dihargai sebagai prajurit, tetapi juga sebagai seorang anak yang sangat dicintai.

Seperti purnama yang selalu kembali muncul setelah gelap, harapan Ibu Sari tetap menyala. Setiap sore ia duduk di teras, bukan hanya karena kebiasaan, tetapi karena ia yakin suatu saat nanti Wira akan melangkah pulang, tersenyum, dan berkata, “Ibu, saya sudah pulang.” Di balik seragam dinas dan tugas negara, ada seorang anak yang sangat menyayangi ibunya. Dan di balik teras sederhana di Lombok itu, ada cinta ibu yang tak lekang oleh waktu—sebuah cinta yang mengajarkan kita semua bahwa ketahanan emosional sebuah keluarga lahir dari pengorbanan, doa, dan keyakinan. Keluarga prajurit memang terbiasa dengan penantian, namun di dalam penantian itulah cinta dan pengabdian tumbuh paling kuat. Ibu Sari mengingatkan kita bahwa menjadi orang tua prajurit berarti setia menunggu, dengan hati yang penuh harap dan tak pernah lelah berdoa.

Entitas yang disebut

Orang: Sari, Wira

Organisasi: TNI AL

Lokasi: Lombok

Bacaan terkait

Artikel serupa