Inspirasi

Prajurit TNI AD Buka Sekolah Darurat di Pedalaman: Ajarkan Anak-Anak Baca Tulis dan Cinta Tanah Air

01 Agustus 2026 Ilaga, Papua Tengah 6 views

Di Distrik Ilaga, Papua Tengah, Serda Dedi Suryadi dari Satgas Yonif 512/Quratara Yudha mendirikan sekolah darurat di bawah tenda terpal sederhana. Setelah menjalani tugas patroli, ia beralih menjadi guru bagi puluhan anak, mengajarkan baca tulis, berhitung, serta menanamkan cinta tanah air melalui lagu-lagu nasional. Jumlah murid terus bertambah dari hanya beberapa anak menjadi sekitar 30 orang, mencerminkan tingginya semangat belajar sekaligus kesenjangan akses pendidikan di wilayah pedalaman.

Kegiatan ini menjadi pelipur rindu bagi Serda Dedi yang terpisah jauh dari keluarga. Naluri kebapakannya tersalurkan melalui kesabaran membimbing anak-anak Papua yang akrab memanggilnya "Bapak Tentara". Di balik ketegasan seragam loreng, ia hadir dengan kehangatan seorang pendidik, mengobati kerinduannya sambil merawat asa generasi muda.

Di sisi lain, keluarga di tanah rantau menyimpan kebanggaan mendalam meski dirundung kecemasan dan jarak. Pengorbanan ini menjadi bukti resiliensi keluarga prajurit yang harus menata hati di dua sisi, antara kerinduan dan keyakinan bahwa tugas mulia ini menabur kebaikan bagi masa depan anak-anak Papua.

Prajurit TNI AD Buka Sekolah Darurat di Pedalaman: Ajarkan Anak-Anak Baca Tulis dan Cinta Tanah Air
{ "konten_html": "

Di tengah dinginnya kabut Distrik Ilaga, Papua Tengah, yang menyelimuti perbukitan sepanjang hari, ada sebuah pemandangan yang mampu menghangatkan jiwa. Setiap sore, di bawah tenda terpal seadanya, puluhan mata anak-anak berbinar penuh semangat. Suara mereka riuh rendah, saling bersahutan mengeja huruf, diselingi gelak tawa yang memecah kesunyian pedalaman. Di sanalah berdiri sebuah sekolah darurat, digagas oleh Serda Dedi Suryadi, seorang prajurit TNI AD dari Satgas Yonif 512/Quratara Yudha. Setelah seharian berpatroli menjaga kedaulatan negeri dengan penuh kewaspadaan, ia menanggalkan letihnya sejenak untuk menyambut panggilan hati yang lain: menjadi 'Pak Guru Tentara' bagi anak-anak yang haus akan ilmu.

Ketika Rindu Keluarga Disulam Menjadi Kesabaran Mendidik

Mengajar baca tulis mungkin bukan tugas pokok yang tertulis dalam buku saku seorang prajurit. Namun bagi Serda Dedi, ini bukan sekadar pengabdian tambahan, melainkan cara untuk mengobati rindu yang menggunung. Terpisah ribuan kilometer dari istri dan anaknya, naluri kebapakan dalam dirinya seolah menemukan pelampiasan. Setiap kali ia dengan sabar membimbing jemari kecil mengeja alfabet, mungkin benaknya melayang membayangkan anak kandungnya sendiri yang juga tengah belajar di tanah rantau. Rindu yang memilukan itu ia redam dengan ketulusan mengajar, hingga anak-anak Papua itu kini akrab memanggilnya 'Bapak Tentara'. Bukan hanya pelajaran membaca dan berhitung, Dedi juga menanamkan tunas cinta tanah air lewat lagu-lagu nasional yang dinyanyikan bersama. Awalnya hanya segelintir anak yang datang, kini jumlahnya membludak hingga 30 orang. “Awalnya hanya beberapa anak yang datang, sekarang bisa sampai 30 anak. Mereka haus belajar,” ujarnya. Semangat itu menjadi cermin betapa besarnya kesenjangan akses pendidikan di pelosok, sekaligus bukti bahwa ketegasan seragam loreng bisa berpadu indah dengan kehangatan seorang pendidik.

Bagi keluarga yang menanti di rumah, kisah tentang seorang suami yang tak hanya bertempur tetapi juga merawat asa adalah sebuah kebanggaan yang pedih. Istri Serda Dedi mungkin harus bergulat dengan cemas di setiap malam sunyi. Namun, di dadanya juga tumbuh keyakinan yang tak tergoyahkan, bahwa pengorbanan jarak dan waktu ini sedang menabur benih-benih kebaikan di bumi Papua. Begitulah resiliensi keluarga prajurit: menata hati di dua sisi, antara kerinduan yang mendalam dan kebanggaan yang tak terkira, sembari terus menjadi penguat bagi satu sama lain walau jarak membentang.

Menjaga Asa, Dari Buku Tulis Hingga Seragam Loreng

Berbekal donasi buku tulis dari Persit Kartika Chandra Kirana serta uluran tangan masyarakat, Serda Dedi perlahan membuka jendela dunia bagi anak-anak pedalaman. Sekolah darurat ini menjadi jembatan emas di atas kebutuhan mendasar yang selama ini nyaris tak tersentuh oleh hingar bingar pembangunan. Mama Yuliana, salah satu orang tua murid, tak kuasa menahan rasa syukur yang membuncah. “Anak saya jadi bisa menulis namanya sendiri, dia ingin jadi tentara seperti Pak Dedi,” tuturnya penuh haru. Keinginan polos seorang bocah itu adalah cerminan suksesnya pendekatan humanis: bahwa seragam loreng tidak melulu identik dengan ketegasan di medan tugas, tetapi juga keteladanan dan kehangatan. Bagi mereka, Dedi bukan hanya pelindung negeri, melainkan juga penjaga mimpi-mimpi kecil yang mungkin tak pernah berani mereka ucapkan dengan lantang.

Di sinilah makna pengabdian menemukan wujudnya yang paling utuh. “Kami di sini bukan hanya untuk berperang, tapi untuk membangun harapan,” kata Serda Dedi. Kalimat sederhana itu seperti doa yang terpanjat dari keluarganya di rumah. Mereka tahu, sosok ayah dan suami yang mereka rindukan tengah menyulam masa depan dari selembar terpal di pelosok Papua. Di balik setiap huruf yang diajarkan, tersimpan doa seorang istri yang tabah menanti. Di balik setiap senyum anak-anak pedalaman, terselip kerinduan seorang ayah pada keluarganya. Bagi para ibu yang mendengar kisah ini, perjuangan Serda Dedi adalah potret nyata bahwa cinta pada keluarga dan dedikasi pada negeri adalah dua hal yang bisa berjalan beriringan, saling menguatkan dalam sunyi, membentuk ketahanan emosional yang tak kasat mata namun sangat nyata dirasakan.

", "ringkasan_html": "

Di pedalaman Papua, seorang prajurit TNI mendirikan sekolah darurat dari tenda terpal untuk mengajarkan anak-anak baca tulis dan cinta tanah air. Kegiatan ini menjadi pelampiasan rindu pada keluarga sekaligus bukti bahwa pengabdian bukan hanya tentang menjaga kedaulatan, tetapi juga merawat harapan dan mimpi generasi penerus bangsa. Di balik ketegasan seragam loreng, tersimpan kehangatan seorang ayah yang dirindukan dan kebanggaan mendalam dari keluarga yang tabah menanti di perantauan.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Dedi Suryadi, Yuliana

Organisasi: Satgas Yonif 512/Quratara Yudha, TNI, TNI AD, Persit Kartika Chandra Kirana

Lokasi: Ilaga, Papua Tengah, Papua, Indonesia

Bacaan terkait

Artikel serupa