Keluarga

Pamitan Terakhir Prajurit Marinir ke Istri: "Doakan Saja, Rawat Aku Baik-Baik"

07 Agustus 2026 Grobogan, Jawa Tengah 4 views

Siti Mardiyah, istri Praka Marinir Zaenal Muttaqin yang gugur dalam latihan terjun payung, harus tegar menjalani kehamilannya tanpa sang suami. Pamitan terakhir Zaenal yang memintanya untuk mendoakan dan merawatnya dengan baik menjadi pegangan Siti di tengah duka. Dukungan keluarga besar mengingatkan bahwa di balik setiap prajurit marinir, ada istri dan keluarga yang berjuang dengan cinta dan pengorbanan.

Pamitan Terakhir Prajurit Marinir ke Istri: "Doakan Saja, Rawat Aku Baik-Baik"

Di tengah persiapan menyambut kelahiran buah hati, Siti Mardiyah harus menerima kenyataan pahit. Suaminya, Praka Marinir Zaenal Muttaqin, gugur dalam latihan terjun payung di Teluk Jakarta, Oktober 2025. Latihan yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-80 TNI itu justru mengukir duka mendalam. Pamitan terakhir Zaenal kepada istrinya begitu membekas: "Doakan saja, rawat aku baik-baik." Kalimat yang terucap dengan senyum tenang itu kini menjadi gema yang terus bergema di hati Siti. Sebagai seorang istri yang sedang mengandung, ia harus menggenggam erat kekuatan, meski rasa kehilangan begitu menusuk.

Tangis dan Tegar di Balik Seragam

Siti tak sendiri. Ayah mertuanya, Nur Hamid, dengan sabar menguatkan. "Kami hanya bisa berdoa agar Siti kuat. Kesehatan dan kandungannya harus dijaga," ucapnya penuh harap. Keluarga besar bahu-membahu menjadi sandaran, mengingatkan bahwa di balik setiap pengabdian prajurit marinir, ada istri yang berjuang mempertahankan senyum di tengah air mata. Setiap malam, Siti masih menyimpan pesan-pesan pendek dari Zaenal, pengingat akan cinta yang tak lekang oleh waktu. Baginya, pamitan terakhir itu bukan sekadar ucapan, melainkan amanah untuk tetap tegar. Di rumah yang dulu ramai tawa, kini hanya doa dan kenangan yang menemani hari-hari penantian kelahiran si buah hati.

Kenangan Manis Sang Prajurit yang Tak Terlupakan

Bagi keluarga, Zaenal bukan sekadar seorang marinir yang gagah. Ia adalah suami penyabar, rajin beribadah, dan selalu menyempatkan diri mengaji di sela tugas. Meski sibuk dengan latihan terjun dan tugas, ia rutin menghubungi istri dan keluarga setiap hari. Nur Hamid mengenang, "Zaenal itu anak yang pendiam, sopan, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Kami semua kehilangan." Kepergiannya begitu berat, namun kenangan manis itu menjadi pelita yang menerangi duka. Latihan terjun yang menjadi bagian hidupnya kini meninggalkan jejak kepahlawanan yang terus dikenang.

Kisah Siti dan Zaenal mengingatkan kita semua bahwa di balik seragam dan tugas negara, ada hati yang rentan, ada keluarga yang menanti dengan rasa cemas dan bangga. Pengabdian seorang marinir tidak hanya diukur dari keberaniannya di medan latihan, tetapi juga dari ketahanan emosional keluarganya yang terus mendukung dari rumah. Semoga Siti diberi kekuatan untuk menjalani hari-hari ke depan, dan buah hati yang dikandungnya kelak tumbuh menjadi pribadi yang tahu arti pengorbanan dan cinta yang tulus. Di setiap pamitan terakhir, ada doa yang terucap, dan di setiap pelukan, ada harapan yang tak pernah padam.

Entitas yang disebut

Orang: Siti Mardiyah, Praka Marinir Zaenal Muttaqin, Nur Hamid

Organisasi: TNI, RSPAD Gatot Soebroto

Lokasi: Teluk Jakarta, Jakarta, Desa Kuripan, Grobogan, Jawa Tengah

Bacaan terkait

Artikel serupa