Keluarga

Kisah Ayah Prajurit yang Rela Ambil Utang demi Sekolahkan Anak

25 Juli 2026 Surabaya, Jawa Timur 4 views

Serda Rahmat, seorang prajurit TNI AL di Koarmada II, menghadapi dilema berat ketika harus menyekolahkan putrinya ke jenjang SMA. Biaya masuk yang tinggi tidak sebanding dengan gaji bulanannya yang pas-pasan, sementara kenaikan pangkat yang diharapkan tak kunjung tiba. Demi masa depan sang anak, ia rela mengajukan pinjaman ke koperasi satuan sebagai jalan terakhir, meski cicilannya akan semakin memangkas penghasilan yang sudah mepet.

Di tengah keterbatasan, istri Serda Rahmat turut berjuang dengan berjualan bakwan dan tempe goreng di depan asrama setiap pagi. Pendapatan tambahan dari usaha kecilnya itu digunakan untuk menutup biaya buku, seragam, dan uang saku putri mereka. Kisah ini menjadi potret keteguhan dan cinta orang tua yang rela menanggung susah demi memastikan anaknya tetap bisa mengejar mimpi di bangku sekolah.

Kisah Ayah Prajurit yang Rela Ambil Utang demi Sekolahkan Anak
{ "konten_html": "

Di balik gagahnya seragam loreng yang dikenakan Serda Rahmat setiap hari, tersimpan kisah seorang ayah yang bergulat dalam diam. Sebagai prajurit TNI AL di Koarmada II, ia terbiasa berjaga di lautan, namun gelombang terberat justru datang dari daratan: biaya masuk SMA putri tercintanya. Gaji bulanan yang pas-pasan terasa kian sempit, sementara kenaikan pangkat tak kunjung menghampiri. Di tengah keterbatasan, ia memilih satu jalan yang mungkin tak pernah terbayang oleh banyak orang: mengambil utang demi sekolah sang anak.

"

Biar Saya yang Susah, Asal Anak Bisa Sekolah

Dengan mata berkaca-kaca, Serda Rahmat mengisahkan keputusan besarnya. Ia mengajukan pinjaman ke koperasi satuan, memilih menanggung cicilan yang akan memangkas gajinya yang sudah mepet. “Saya tidak mau masa depan anak terhambat karena uang. Biar saya yang susah, asal dia bisa lanjut sekolah,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin kapal di kejauhan. Kalimat itu bukan sekadar kata-kata, melainkan cermin keberanian seorang ayah yang rela melukai ekonominya sendiri demi membuka jalan bagi mimpi putrinya. Tak ada keluhan keras, hanya getaran hati yang memilih untuk berkorban dalam sunyi—sebuah potret pengabdian yang jarang tersorot.

Namun, perjuangan ini tak bertepuk sebelah tangan. Istri Serda Rahmat ikut memangku harapan dengan tangannya sendiri. Setiap pagi, selepas subuh, perempuan itu mulai menggoreng adonan di dapur mungil asrama. Bakwan dan tempe goreng buatannya ia jajakan di depan asrama, kepada sesama istri prajurit atau warga yang lalu-lalang. Aroma gorengan yang menyeruak di pagi hari seakan mengabarkan bahwa di rumah kecil mereka, cinta dan ikhtiar masih terus menyala. Pendapatan tambahan dari jualan itu mungkin tak seberapa, tetapi cukup untuk menutup biaya buku, seragam, atau uang saku putri mereka. Di dapur yang sederhana, ia meracik bukan cuma gorengan, melainkan juga ketahanan keluarga yang sering kali tak terlihat di balik seragam dinas.

Harapan dari Beasiswa yang Meringankan

Kisah Serda Rahmat mengungkap sisi lain kehidupan ekonomi prajurit rendah yang kerap terabaikan. Di tengah tugas menjaga laut dan perbatasan, para abdi negara ini sering bertempur dalam diam melawan kegelisahan domestik. Untungnya, secercah kabar baik datang. Program beasiswa dari Kementerian Pertahanan dan yayasan TNI hadir untuk meringankan biaya semester berikutnya. Bantuan itu seperti pelampung yang mengangkat kepala mereka dari tenggelamnya kekhawatiran. “Setidaknya napas kami lebih panjang,” bisik Serda Rahmat dengan senyum tipis, matanya tak lagi sendu. Beasiswa itu bukan sekadar angka di rekening, melainkan tanda bahwa perjuangan mereka juga diperhatikan, dan bahwa sekolah bagi sang anak tak lagi hanya bergantung pada utang semata.

Di penghujung cerita, yang tersisa bukan sekadar soal utang dan sekolah. Di sana ada potret seorang ayah yang mendefinisikan cinta sebagai keberanian untuk terluka sendiri agar putrinya bisa melanjutkan langkah. Ada pula seorang ibu yang dengan gorengan paginya mengajarkan bahwa dukungan tak selalu berwujud materi besar, melainkan kehadiran dan ikhtiar yang hangat. Bagi keluarga prajurit, setiap hari adalah medan juang yang tak terlihat di peta tugas—dan di sanalah ketahanan sejati diuji, bukan dengan peluru, melainkan dengan kasih yang tak pernah menyerah.

", "ringkasan_html": "

Serda Rahmat, seorang prajurit TNI AL, rela mengambil utang agar putrinya tetap bisa melanjutkan sekolah. Bersama sang istri yang berjualan gorengan, mereka berjuang dalam diam demi masa depan anak hingga akhirnya terbantu beasiswa.

" }

Entitas yang disebut

Orang: Serda Rahmat

Organisasi: TNI AL, Koarmada II, koperasi satuan, Kemhan, yayasan TNI

Bacaan terkait

Artikel serupa