Keluarga
Harmoni di Rumah Dinas: Ibu-Ibu Persit Kartika Chandra Kirana Berdaya Lewat UMKM
Di rumah dinas Korem 043/Gatam, istri prajurit TNI AD mengubah penantian menjadi produktivitas lewat UMKM yang digagas Persit Kartika Chandra Kirana. Kebersamaan dalam berkarya tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi ruang saling menguatkan di tengah rindu dan cemas akan suami yang bertugas. Kisah ini menjadi potret ketahanan keluarga prajurit yang hangat dan membanggakan.
Di balik pagar sederhana Kompleks Rumah Dinas Korem 043/Gatam, Bandar Lampung, ada cerita yang tak banyak terdengar. Bukan deru kendaraan tempur atau suara lantang komandan, melainkan tawa renyah para ibu yang tengah sibuk menganyam rotan, mengaduk adonan kue, atau mendekorasi hantaran. Mereka adalah istri para prajurit TNI AD, yang sehari-hari menghuni rumah dinas sederhana. Saat suami bertugas menjaga perbatasan atau hutan, para istri ini tidak tinggal diam. Lewat program UMKM yang diinisiasi Persit Kartika Chandra Kirana, mereka mengubah kesunyian menjadi karya, dan kekhawatiran menjadi penghasilan. Rumah dinas yang biasanya hanya menjadi tempat menanti, kini menjelma ruang produktif penuh semangat. Ny. Dewi Sartika, Ketua Persit setempat, berkata lirih, “Kami ingin istri prajurit tetap produktif dan mandiri secara ekonomi. Dengan berkumpul, kami saling menguatkan.” Kata-katanya sederhana, namun menyimpan dalamnya rasa sepenanggungan. Ditinggal suami berbulan-bulan ke medan tugas bukan perkara enteng. Rindu, cemas, dan letih mengurus anak sendirian seringkali menyergap. Di sinilah kebersamaan itu menjadi obat. Di antara toples kue kering dan lembaran kain flanel, mereka bertukar cerita, bahu-membahu menyelesaikan pesanan, dan perlahan menyembuhkan luka kecil akibat jarak.
Dari Dapur Mungil ke Pasar Digital
Keterbatasan ruang di rumah dinas tak menyurutkan kreativitas. Pelatihan menjahit, memasak, hingga mengelola pemasaran digital digelar bergiliran. Dukungan dari TNI AD dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) membuka akses yang sebelumnya tak terbayangkan: produk mereka kini bisa dipesan lewat media sosial. Sebungkus opak singkong, sepotong bros manik-manik, atau sekotak hamper lucu—semua lahir dari tangan-tangan yang awalnya hanya terbiasa menanti. “Dulu saya cemas memikirkan biaya sekolah anak. Sekarang, dari jualan kering kentang balado, bisa nambah uang jajan dan tabungan,” ujar seorang istri prajurit sambil tersenyum, matanya berkaca-kaca. Hasil penjualan UMKM ini memang tidak besar, tetapi cukup berarti bagi keluarga yang mengandalkan gaji tunggal. Lebih dari itu, ada kebanggaan yang tak ternilai saat anak-anak bilang, “Ibu hebat, bisa bikin kue pesanan orang.”
Anak-Anak yang Ikut Tumbuh Bangga
Bagi anak-anak prajurit, pemandangan ibu mereka sibuk berkarya di teras rumah dinas adalah pelajaran hidup yang tak terucap. Mereka melihat sendiri, bagaimana cemas akan keselamatan ayah di perbatasan tidak melumpuhkan, melainkan melahirkan daya juang. Ketika seorang ibu sibuk menyablon totebag, anaknya duduk di sampingnya, membantu melipat kertas. Rasa rindu pada ayah yang berbulan-bulan tak pulang tertransformasi menjadi semangat membantu ibu. Kebersamaan di sini bukan hanya antar-istri, tetapi juga antara ibu dan anak, menciptakan ketahanan emosional yang tak gampang luntur. Dukungan Persit pun terasa seperti keluarga besar: jika satu anggota kesulitan bahan baku, yang lain sigap menawarkan. Jika ada yang jatuh sakit atau butuh teman menjaga si kecil, tangan-tangan hangat selalu terulur. Rumah dinas yang semula hanya deretan bangunan abu-abu, kini menjadi mozaik warna-warni karya dan tawa. Ketika sore tiba dan lagu kebangsaan berkumandang, anak-anak itu berdiri tegak, menatap ibu mereka dengan bangga—pahlawan hati yang tak kalah perkasa dari seragam ayah mereka.
Menjadi istri prajurit adalah panggilan yang tak pernah meminta balas jasa. Di balik setiap kue yang matang dan bros yang terjual, ada doa yang tak putus untuk suami di medan tugas. Lewat UMKM dan kebersamaan yang dipupuk Persit, para ibu ini membuktikan bahwa rumah dinas bukan sekadar tempat menanti, melainkan benteng kecil tempat mereka tumbuh, saling menopang, dan mengubah setiap rindu menjadi kekuatan yang utuh. Dari sini kita belajar, ketahanan sebuah keluarga tak selalu diukur dari seberapa sering mereka bersama, tetapi dari bagaimana mereka tetap bertahan dan berkarya meski jarak membentang.
Entitas yang disebut
Orang: Ny. Dewi Sartika
Organisasi: Persit Kartika Chandra Kirana, TNI AD, Disperindag, Korem 043/Gatam
Lokasi: Kompleks Rumah Dinas Korem 043/Gatam, Bandar Lampung