Keluarga
Program 'Sekolah Orang Tua' oleh TNI AD di Jayapura Bantu Keluarga Prajurit Paham Pola Asuh Modern
Program 'Sekolah Orang Tua' yang digagas Korem 172/PWY di Jayapura memberikan bekal ilmu pola asuh dan dukungan emosional bagi keluarga prajurit. Melalui edukasi dari ahli dan berbagi pengalaman sesama istri prajurit, program ini bertujuan membangun ketahanan keluarga di tengah tantangan perpisahan karena tugas dinas. Inisiatif ini menjadi wujud nyata perhatian terhadap kesejahteraan psikologis keluarga sebagai pondasi penting bagi prajurit dalam menjalankan pengabdian.
Di tengah laju teknologi yang serba cepat dan jadwal dinas yang kerap kali tak pasti, kehidupan keluarga prajurit tentu memiliki tantangannya tersendiri. Bagi pasangan suami istri prajurit, momen kebersamaan sering kali menjadi barang mewah. Kekhawatiran utama justru tidak melulu soal keamanan di medan tugas, tetapi juga tentang bagaimana membimbing anak-anak dari kejauhan. Berangkat dari kepedulian inilah, Korem 172/PWY di Jayapura menghadirkan sebuah program yang sangat berarti: ‘Sekolah Orang Tua’. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa keberhasilan seorang prajurit di lapangan tak lepas dari ketangguhan dan pemahaman keluarga di rumah. Ini adalah sebuah investasi yang tak ternilai untuk masa depan, bukan hanya sebagai pasukan, tetapi juga sebagai sebuah keluarga yang utuh.
Nasihat di Tengah Kerinduan: Ketika Ayah Bertugas, Ibu Pun Perkuat Ilmu
‘Sekolah Orang Tua’ digelar secara rutin setiap bulan di aula markas, menghadirkan suasana kekeluargaan yang hangat di antara para peserta. Yang istimewa, program ini secara khusus menghadirkan psikolog anak dan pakar keluarga untuk memberikan edukasi yang relevan dengan kondisi mereka. Materi yang diberikan bukanlah teori kaku, tetapi ilmu praktis seputar pola asuh di era digital, membangun komunikasi efektif dengan anak, hingga mengelola dinamika rumah tangga ketika peran satu orang tua harus ditinggal karena tugas. “Kami sering kebingungan menghadapi anak remaja, apalagi kalau suami sedang tugas. Ilmu dari sini sangat membantu,” ujar Ibu Desi, salah satu peserta, mencerminkan perasaan banyak istri prajurit lainnya. Mereka tidak hanya belajar sendirian; beberapa prajurit yang sedang berada di markas pun turut serta, menyadari bahwa peran ayah dalam parenting tak kalah pentingnya.
Lebih dari Sekedar Seminar: Membangun Jaringan Dukungan Emosional
Dibalik deretan kursi dan materi presentasi, ada ruang berbagi yang mungkin lebih berharga. Program ini menjadi titik temu bagi para istri prajurit untuk saling menguatkan. Mereka bisa bertukar cerita tentang keseharian mengurus rumah tangga sendirian, mengelola kerinduan anak pada ayahnya, dan saling memberi tips. Ikatan yang terbangun dalam ruangan itu adalah bentuk ketahanan sosial yang sangat vital. Mereka memahami betul bahwa hidup sebagai bagian dari keluarga prajurit berarti siap menghadapi ketidakpastian. Dukungan sesama ‘keluarga besar’ inilah yang membuat mereka merasa tidak sendiri. Edukasi dari pakar memberikan mereka bekal teori, sementara dukungan dari sesama istri memberikan mereka kekuatan mental dan empati yang tulus.
Program ini juga secara halus menegaskan bahwa tugas menjaga ketahanan bangsa tak hanya berhenti di garis depan. Ketahanan sebuah bangsa dimulai dari ketahanan keluarga, unit terkecil masyarakat. Ketika seorang ayah prajurit merasa tenang karena keluarganya di rumah tangguh dan tercukupi secara emosional, ia bisa fokus menjalankan tugas dengan lebih baik. Demikian pula, ketika anak-anak tumbuh dengan pemahaman dan pola asuh yang baik, meski ayah sering tak ada di samping, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan memahami makna pengabdian. ‘Sekolah Orang Tua’ ini adalah upaya konkret untuk memutus mata rantai kebingungan dan kecemasan, menggantinya dengan pemahaman dan strategi yang lebih positif dalam menghadapi dinamika parenting yang penuh tantangan.
Pada akhirnya, ‘Sekolah Orang Tua’ dari Korem 172/PWY lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah bentuk pengakuan dan apresiasi terdalam terhadap peran ganda yang dijalani oleh istri dan keluarga prajurit. Mereka adalah pilar tak tampak yang menopang setiap langkah pengabdian. Dengan membekali mereka ilmu dan jaringan, TNI AD tidak hanya membangun prajurit yang profesional, tetapi juga membangun keluarga prajurit yang harmonis, tangguh, dan penuh kasih sayang. Di balik seragam yang gagah, ada hati seorang ayah yang merindukan anaknya, dan di balik senyuman seorang istri di rumah, ada ketangguhan seorang ibu yang luar biasa. Program ini adalah bukti bahwa perhatian terhadap aspek kemanusiaan dalam organisasi militer modern adalah kunci membangun kekuatan yang sebenarnya.
Entitas yang disebut
Orang: Desi
Organisasi: TNI AD, Korem 172/PWY
Lokasi: Jayapura