Kisah TNI
Program "Sahabat Keluarga Prajurit" TNI AD Gelar Trauma Healing untuk Anak Korban Bencana di Sulawesi
Program "Sahabat Keluarga Prajurit" TNI AD memberikan dukungan psikologis melalui trauma healing bagi anak-anak prajurit yang ditinggal ayahnya bertugas pascabencana. Kegiatan ini menjadi ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan kerinduan dan kecemasan, sekaligus bentuk pengakuan atas beban emosional yang ditanggung keluarga di rumah. Dukungan ini memperkuat ketahanan keluarga prajurit dan memungkinkan ayah mereka bertugas dengan lebih tenang.
Di balik tugas mulia menjaga bangsa, ada sebuah cerita lain yang jarang terdengar—cerita tentang rumah. Saat seorang prajurit berangkat menuju lokasi bencana, di balik pintu rumah yang tertutup, ada hati kecil yang berdegup cemas dan rindu. Anak-anak yang terbiasa dengan tawa dan pelukan ayahnya harus berdamai dengan kursi kosong di meja makan. Kerinduan ini seringkali tak terungkap kata, hanya tersimpan dalam diam, dalam pertanyaan yang berulang di benak: “Ayah, kapan pulang?”
Coretan Rindu di Atas Kertas: Saat Kata-Kata Tak Mampu Mengungkap
Menyadari bahwa beban emosional keluarga prajurit perlu dirawat, Program “Sahabat Keluarga Prajurit” TNI AD—sebagai bentuk nyata dukungan negara—melangkah lebih dalam. Bukan hanya sekadar bantuan materi, program ini hadir untuk menjangkau sisi psikis dan emosional. Di Sulawesi Tengah, puluhan anak usia Sekolah Dasar yang merupakan putra-putri prajurit, mengikuti sesi trauma healing pascabencana banjir bandang. Ayah mereka sedang bertugas, meninggalkan rumah selama berminggu-minggu untuk membantu sesama.
Ruangan yang awalnya hening akhirnya berubah menjadi taman tawa dan warna. Dengan bimbingan psikolog dan relawan dari Persit Kartika Chandra Kirana, anak-anak diajak bermain, bercerita, dan menggambar. Kertas putih menjadi media bagi perasaan yang sulit diutarakan. Andi, bocah berusia 8 tahun, menggambar sosok ayahnya dengan seragam hijau berdiri di samping rumah yang tergenang. Dengan polos ia berkata, “Aku kangen papa, tapi mama bilang papa sedang bantu orang yang rumahnya kebanjiran.” Kalimat sederhana itu menampung begitu banyak hal: kerinduan mendalam, pemahaman akan tugas ayahnya, dan usaha seorang anak untuk menerima dengan caranya sendiri.
Merawat Emosi dari Rumah: Pengakuan untuk Pengorbanan yang Tak Tampak
Aktivitas trauma healing ini adalah pengakuan yang penting. Institusi tidak hanya melihat pengorbanan prajurit dari sisi fisik, tetapi juga memahami bahwa beban psikis keluarga di rumah adalah nyata. Setiap detik kecemasan akan keselamatan, setiap malam kerinduan yang tak terperi, dan tanggung jawab ganda yang diemban sang ibu saat suami bertugas—semua itu adalah bentuk pengabdian lain yang sama mulianya. Program ini seolah berkata, “Kami melihatmu, kami mendengarmu.”
Dampak dari dukungan ini berlapis dan luas. Bagi anak-anak, kegiatan ini menjadi ruang aman untuk melepaskan perasaan campur aduk—rindu, cemas, namun juga sedikit bangga. Bagi para ibu yang menjalankan peran tunggal, mengetahui bahwa ada yang peduli adalah suntikan semangat. Ketika seorang prajurit tahu bahwa keluarganya dirawat dan didukung, ia pun bisa bertugas dengan lebih tenang dan fokus.
Gambar-gambar yang dihasilkan dalam sesi trauma healing itu bukan sekadar coretan biasa. Mereka adalah surat cinta tanpa kata, jembatan emosi antara seorang anak di rumah dan seorang ayah di lokasi bencana. Mereka mengingatkan kita bahwa di balik setiap tugas mulia, ada keluarga yang menunggu dengan hati penuh harap. Dan dukungan negara yang tepat tidak hanya menguatkan prajurit di lapangan, tetapi juga menghangatkan hati keluarga di rumah.
Entitas yang disebut
Orang: Andi
Organisasi: TNI AD, Persit Kartika Chandra Kirana
Lokasi: Sulawesi, Sulawesi Tengah