Keluarga

Prajurit TNI Kehilangan Istri dalam Longsor Susulan Saat Bertugas di Aceh Tamiang

28 Maret 2026 https://jurnas.net/news-2705-pamit-bertugas-dan-pulang-kehilangan-istri-kisah-prajurit-tni-tragedi-longsor-aceh-tamiang Aceh Tamiang

RINGKASAN

Kisah mengharukan datang dari Aceh Tamiang, di mana Sersan Satu Hamzah Lubis kehilangan sang istri, Lelawani, dalam longsor susulan saat ia sedang bertugas menanggapi bencana. Peristiwa ini menyoroti pengorbanan keluarga prajurit yang hidup dengan ketidakpastian dan menjadi pilar ketenangan di belakang layar, serta mengingatkan kita bahwa di balik tugas seorang penolong, ada ikatan cinta dan ketangguhan keluarga yang menjadi sumber kekuatan utama, meski terkadang harus menghadapi risiko dan duka yang sangat personal.

Prajurit TNI Kehilangan Istri dalam Longsor Susulan Saat Bertugas di Aceh Tamiang
Foto: AI Generated

Prajurit TNI Kehilangan Istri dalam Longsor Susulan Saat Bertugas di Aceh Tamiang

Kadang, perpisahan untuk bertugas hanya diisi dengan pamit singkat di ambang pintu. Sebuah pelukan, senyuman, atau sekadar anggukan yang berisi pesan tak terucap: "Ayah/Ibu akan pulang nanti." Itulah rutinitas yang akrab di banyak keluarga prajurit. Namun, pada suatu malam di penghujung November 2025, sebuah pamit biasa dari Sersan Satu (Sertu) Hamzah Lubis kepada istrinya, Lelawani, dan kedua anak mereka, berubah menjadi perpisahan yang tak terduga dan mengharu biru.

Longsor yang Datang Dua Kali

Bencana tanah longsor telah melanda Aceh Tamiang. Sertu Hamzah Lubis, seorang prajurit dari Kodim 0117 Aceh Tamiang, turun langsung menanggapi musibah tersebut. Tugas kemanusiaan itu dijalaninya dengan sepenuh hati, termasuk berhasil mengevakuasi seorang ibu yang menjadi korban longsor. Pada Rabu, 26 November 2025 malam, setelah menyelesaikan satu bagian tugasnya, ia sempat pulang sejenak ke rumah dinasnya. Di sana, sang istri dan kedua buah hati menunggu.

Momen itu singkat. Hamzah harus kembali ke lokasi bencana. Ia pun pamit kepada Lelawani (39) dan anak-anaknya, lalu pergi. Tak ada yang menyangka, sekitar satu setengah jam kemudian, alam menunjukkan amukannya sekali lagi. Longsor susulan datang, dan kali ini sasarannya justru rumah dinas tempat keluarganya tinggal.

Lari Menuju Duka di Tengah Tugas

Kabar musibah itu sampai kepada Hamzah saat ia masih dalam rangkaian tugas. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia berlari menuju rumahnya. Apa yang ia temukan adalah pemandangan yang menghancurkan hati: rumahnya telah tertimbun, dan istrinya, Lelawani, terjepit di bawah tumpukan beton dan tanah.

Sebagai seorang prajurit yang tangguh di medan tugas, saat itu ia merasa sangat tak berdaya. Tanpa ketersediaan alat berat di lokasi untuk mengangkat puing-puing besar, upaya penyelamatan menjadi sangat terbatas. Ia hanya bisa menyaksikan, berjuang melawan rasa helplessness yang dalam, sementara "separuh hidupnya" terperangkap dalam reruntuhan. Di tengah tugas kemanusiaan untuk membantu orang lain, ia harus menghadapi tragedi kemanusiaan yang menimpa keluarganya sendiri.

Antara Seragam dan Apron Dapur

Kisah ini membuka tabir sisi lain kehidupan prajurit yang sering luput dari sorotan. Di balik seragam yang tegak dan tugas-tugas yang penuh disiplin, ada kehidupan rumah tangga yang sama hangat dan rapuhnya dengan keluarga lainnya. Ada istri yang menunggu di rumah, mengurus anak, mengelola rumah tangga, dan selalu mendoakan keselamatan suaminya yang bertugas. Lelawani adalah salah satu pilar itu.

Kehilangan yang dialami Sertu Hamzah bukan sekadar kehilangan seorang istri, tetapi kehilangan partner hidup yang mendukung dari belakang layar, kehilangan ibu bagi kedua anaknya, dan kehilangan "home" dalam arti yang sesungguhnya. Duka ini pasti juga dirasakan oleh kedua anak mereka, yang dalam sekejap kehilangan kasih sayang ibu di saat sang ayah harus berjibaku dengan bencana alam.

Dukungan dalam Kesunyian

Tragedi ini menyoroti betapa keluarga prajurit juga menanggung risiko dan pengorbanan yang besar. Mereka hidup dengan ketidakpastian, menguatkan hati setiap kali anggota keluarga mereka pamit bertugas, terutama di situasi bencana yang penuh bahaya. Dukungan mereka tidak terdengar gemanya, tidak tercatat dalam laporan tugas, tetapi menjadi fondasi ketenangan dan kekuatan bagi setiap prajurit di garis depan.

Dalam kesedihan Hamzah, kita bisa membayangkan jaringan dukungan diam-diam yang mungkin mengelilinginya: rekan-rekan sekesatuan yang memahami, sanak keluarga yang turut berduka, dan masyarakat yang ia bantu. Meski tak tertulis dalam bahan, dalam budaya korps TNI yang kental dengan semangat kesatuan, dukungan semacam itu sering menjadi penyangga di saat-saat terberat.

Keluarga: Pilar yang Tak Tergantikan

Kisah Sertu Hamzah Lubis dan Lelawani mengajak kita untuk merenung lebih dalam. Seorang prajurit dikirim untuk menjadi penolong, pelindung, dan kekuatan bagi masyarakat yang terdampak bencana. Namun, di balik itu semua, prajurit tetaplah manusia biasa dengan ikatan cinta dan keluarga yang menjadi sumber kekuatan utamanya. Ketangguhan seorang prajurit di lapangan tak lepas dari ketangguhan keluarganya yang harus tegar menjalani hari-hari, seringkali dalam keheningan dan kecemasan.

Peristiwa di Aceh Tamiang ini adalah pengingat yang pilu. Ia menunjukkan bahwa pengorbanan dalam pengabdian tidak hanya terjadi di medan tugas yang terlihat, tetapi juga di ruang keluarga yang sunyi. Setiap pamit pergi bertugas bisa mengandung beban emosi yang berat, dan setiap kepulangan adalah harapan yang dinanti. Ketika harapan itu pupus oleh takdir, yang tersisa adalah luka mendalam yang butuh waktu dan dukungan kolektif untuk sembuh.

Mungkin, penghormatan tertinggi kita bukan hanya untuk jasanya yang berseragam, tetapi juga pengakuan atas peran dan pengorbanan keluarga di belakangnya. Mereka adalah pilar ketahanan yang sesungguhnya, fondasi humanis yang membuat setiap langkah pengabdian menjadi lebih bermakna, meski terkadang harus dibayar dengan harga yang sangat personal dan menyayat hati.

Entitas yang disebut

Orang: Sersan Satu (Sertu) Hamzah Lubis, Lelawani

Organisasi: TNI, Kodim 0117 Aceh Tamiang

Lokasi: Aceh Tamiang

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Bacaan terkait

Artikel serupa