Kisah TNI
Pamit Bertugas dan Pulang Kehilangan Istri: Kisah Prajurit TNI Tragedi Longsor Aceh Tamiang
Sertu Hamzah Lubis menghadapi tragedi saat longsor susulan menewaskan istrinya, Lelawani, di rumah dinas mereka di Aceh Tamiang. Meski berhasil menyelamatkan kedua anaknya dari reruntuhan dengan evakuasi darurat, duka yang mendalam tidak menghentikan tanggung jawabnya. Hanya tiga hari setelah pemakaman istri, ia memilih kembali bertugas mengevakuasi korban lain, menunjukkan ketangguhan seorang prajurit di atas kepedihan pribadinya.
Sebagai seorang prajurit, Sertu Hamzah Lubis sudah terbiasa dengan panggilan tugas yang tiba-tiba. Namun, panggilan untuk menanggapi bencana longsor di Aceh Tamiang hari itu membawanya pada sebuah pertemuan takdir yang tak terbayangkan. Sementara tangannya sibuk mengevakuasi seorang ibu dari reruntuhan tanah, hatinya teringat pada istri dan dua anaknya yang menunggu di rumah dinas. Sebuah rasa yang mungkin akrab bagi banyak keluarga prajurit: cemas yang terselip di balik semangat pengabdian.
Pamit Bertugas dan Detik-Detik Perpisahan
Usai membantu korban, Hamzah pulang sejenak. Wajah lelahnya mungkin ingin disandarkan pada ketenangan rumah. Ia pamit kepada istrinya, Lelawani, bahwa ia harus kembali bertugas jaga malam. Saat itu, sebuah percakapan singkat namun penuh makna terjadi. Lelawani, dengan naluri seorang istri yang merasakan kelelahan suaminya, mencoba menahan, "Abang kan baru turun piket. Jadi tidak balik lagi nanti." Kalimat itu adalah bentuk kepeduliannya, ungkapan kecemasan yang lahir dari cinta. Tanpa tahu bahwa itu akan menjadi kata-kata terakhirnya kepada sang suami, Hamzah pun pergi, meninggalkan keluarga kecilnya dalam bayang-bayang hujan deras.
Kira-kira satu setengah jam kemudian, bumi berguncang lagi. Longsor susulan menerjang, dan salah satu sasarannya adalah rumah dinas tempat Lelawani, Bintang (anak sulung), dan Amanda (anak kedua) berada. Dengan hati berdebar kencang, Hamzah berlari menuju rumahnya yang kini telah berubah menjadi tumpukan puing. Di tengah kegelapan dan rintik hujan, ia menemukan sang istri tercinta terjepit di balik reruntuhan. Di saat genting itu, tanpa alat berat untuk membantu, Hamzah hanya bisa melakukan hal yang paling manusiawi: mendekatkan mulutnya ke telinga Lelawani dan membisikkan doa-doa. Di pelukan reruntuhan itulah, Lelawani menghembuskan napas terakhirnya, meninggalkan kehilangan yang teramat dalam di hati seorang suami dan ayah.
Duka yang Dalam dan Tanggung Jawab Sebagai Ayah dan Prajurit
Duka itu belum usai. Dari balik puing, terdengar suara memilukan yang memanggilnya, "Tolong, Ayah!" Itu adalah suara Bintang, anak sulungnya. Instink sebagai ayah langsung bekerja. Dengan tangan kosong, dibantu oleh rekan-rekannya, Hamzah berjuang mengangkat beton dan puing untuk menyelamatkan buah hatinya. Berkat usaha itu, Bintang yang luka-luka dan Amanda berhasil diselamatkan. Di tengah kesedihan yang menyelimuti, ada setitik kelegaan karena kedua anaknya masih diberikan kesempatan. Saat itu, Hamzah bukan lagi hanya seorang prajurit di medan bencana, ia adalah seorang ayah yang berjuang mati-matian untuk anak-anaknya.
Pemakaman Lelawani dilaksanakan dengan hikmat. Namun, hanya tiga hari setelah tanah menutup peti sang istri, Hamzah membuat keputusan yang mencerminkan jiwanya yang kuat. Ia memilih untuk kembali mengenakan seragam dan turun ke lapangan lagi, melanjutkan misi evakuasi korban longsor lainnya. Keputusan ini bukan tanda bahwa lukanya telah sembuh, tetapi sebuah bukti nyata dari besarnya tanggung jawab yang ia pikul. Di atas kepedihan pribadi yang teramat sangat, ia menempatkan panggilan untuk membantu sesama yang juga sedang menderita. Ini adalah pengorbanan tingkat tinggi yang menunjukkan bahwa hati seorang prajurit seringkali terbelah antara keluarga dan negara, namun keduanya dilayani dengan dedikasi yang sama tulusnya.
Kisah Hamzah mengingatkan kita pada ketangguhan dan kerentanan yang hidup berdampingan dalam diri seorang prajurit dan keluarganya. Di balik seragam yang tegak, ada hati seorang suami yang rindu, seorang ayah yang khawatir, dan seorang manusia yang bisa terluka. Lelawani, dengan kata-kata terakhirnya yang penuh perhatian, mewakili jutaan keluarga prajurit yang setiap hari menyimpan doa dan kecemasan untuk keselamatan orang yang mereka cintai. Kisah ini adalah tentang cinta yang terpenggal oleh bencana, tentang keberanian seorang anak yang memanggil ayahnya, dan tentang komitmen seorang abdi negara yang, meski hatinya remuk, tetap memilih untuk berdiri dan melanjutkan pengabdian. Ia mengajarkan pada kita bahwa terkadang, ketangguhan sejati terlihat dari kemampuan untuk tetap menjalankan kewajiban, meski beban di pundak terasa hampir mustahil untuk ditanggung.
Entitas yang disebut
Orang: Sertu Hamzah Lubis, Lelawani, Bintang, Amanda
Organisasi: TNI
Lokasi: Aceh Tamiang