Kisah TNI

Kisah Praka Aprianus, Anak Penjual Sayur Asal Sintang yang Gigih Jadi TNI hingga Gugur di Papua

15 Mei 2026 Sintang, Kalimantan Barat 5 views

Kisah Praka Aprianus adalah cerita humanis tentang seorang anak dari keluarga penjual sayur di Sintang yang bercita-cita jadi TNI untuk membantu ekonomi orang tuanya. Dengan kegigihan luar biasa, ia akhirnya berhasil setelah dua kali gagal. Keputusannya mengabdi hingga gugur di Papua menjadi bukti nyata pengorbanan dan cinta terdalam seorang anak kepada keluarganya.

Kisah Praka Aprianus, Anak Penjual Sayur Asal Sintang yang Gigih Jadi TNI hingga Gugur di Papua

Di balik setiap prajurit yang bertugas di ujung negeri, tersimpan cerita tentang keluarga yang menunggu di rumah, doa yang tak pernah berhenti, dan harapan sederhana akan sebuah reuni. Kisah Praka (Anumerta) Aprianus dari Sintang, Kalimantan Barat, bukan sekadar cerita tentang seorang prajurit, tetapi tentang hati seorang anak yang ingin meringankan beban kedua orang tuanya. Sebagai anak bungsu dan satu-satunya laki-laki, keputusannya untuk mengangkat sumpah sebagai prajurit TNI berakar dari keinginan paling manusiawi: untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Beban Seorang Anak untuk Orang Tua yang Dicintai

Sang ibunda, Agnes, masih mengingat jelas percakapan hatinya dengan sang anak. Saat Aprianus menyampaikan tekadnya untuk mendaftar TNI, Agnes menyarankan opsi lain yang dianggapnya lebih aman: kuliah atau menjadi pastor. Namun, dengan keteguhan hati yang khas, Aprianus menjawab, "Aku tidak mau, Mak. Nanti kalau aku kuliah, kapan aku bisa kasih kalian uang?" Kalimat itu, yang terucap dari seorang anak yang melihat kerja keras orang tuanya sebagai penjual sayur, menjadi bukti awal dari besarnya pengorbanan yang ia siapkan. Ia memilih jalan yang diyakininya bisa segera mengubah nasib ekonomi keluarganya.

Jalan Panjang Menuju Kerangka Hijau, Ditempa oleh Kegagalan

Perjuangan Aprianus tidak instan. Impiannya untuk mengenakan seragam harus melewati dua kali kegagalan dalam seleksi TNI. Ia bahkan sempat mencoba peruntungan di jalur kepolisian, namun hasilnya sama. Namun, bayangan senyum lega orang tuanya, bayangan mereka yang tak lagi perlu berlelah seharian di pasar, menjadi bahan bakar semangatnya yang tak pernah padam. Ia bangkit, berlatih lebih keras, dan mencoba untuk ketiga kalinya. Pada tahun 2021, kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Seragam hijau kebanggaan TNI akhirnya melekat di tubuhnya. Kebanggaan itu bukan hanya miliknya sendiri, melainkan milik seluruh keluarga di Sintang yang melihat seorang anak desa berhasil menggapai mimpinya.

Ia tumbuh sebagai prajurit yang dikenal gigih dan penuh tanggung jawab. Nilai-nilai yang ia pelajari dari kehidupan sederhana di Sintang—kejujuran, kerja keras, dan kesetiaan—ternyata menjadi pondasi yang kokoh untuk tugasnya sebagai abdi negara. Setiap gaji yang diterimanya, selalu ada bagian yang dikirimkan pulang. Itu adalah janjinya, sebuah bentuk balas budi yang konkret, meski dari jarak ratusan kilometer. Ia membuktikan bahwa seragam yang ia kenakan tidak mengubahnya; ia tetap Aprianus, anak yang peduli pada orang tuanya.

Dinasnya kemudian membawanya ke tanah Papua, medan tugas yang penuh tantangan. Di sana, ia mengemban amanah sebagai prajurit penjaga kedaulatan. Setiap langkahnya di bumi Cenderawasih, diiringi oleh doa seorang ibu yang setiap malam memandang langit, berharap anaknya selamat. Pengorbanan seorang prajurit seperti Aprianus selalu berlipat ganda; ada pengorbanan fisik dan mental di medan tugas, dan ada pengorbanan batin berupa kerinduan yang mendalam dari keluarga yang ditinggalkan.

Kabar gugurnya Aprianus di Papua bukanlah akhir dari cerita. Ia meninggalkan pelajaran yang dalam tentang arti sebuah perjuangan. Perjuangannya bukan dimulai dari saat ia memegang senjata, tetapi dari saat ia memutuskan untuk berdiri di atas kaki sendiri demi orang tua. Kisahnya mengingatkan kita bahwa di balik seragam yang gagah, ada kisah manusia biasa dengan impian keluarga yang sederhana: melihat orang tua hidup lebih tenang, mendengar tawa mereka, dan mampu membalas jasa mereka. Semangat dan cintanya pada keluarga akan terus hidup, menjadi warisan yang lebih berharga dari apapun, bagi sang ibunda Agnes dan bagi kita semua yang mendengar kisahnya.

Bacaan terkait

Artikel serupa