Inspirasi
Kisah Heroik Sertu Hamzah, Tetap Bertugas meski Istri Meninggal Tertimpa Longsor
Sertu Hamzah Lubis dari Aceh Tamiang harus menghadapi tragedi pahit saat istrinya, Lelawani, meninggal tertimpa longsor di rumah dinas, tepat setelah ia pamit kembali bertugas membantu korban bencana. Di tengah duka yang mendalam, ia memilih untuk tetap menjalankan kewajibannya membantu warga lain yang membutuhkan, menunjukkan keteguhan hati seorang prajurit dan konflik batin yang luar biasa antara tugas dan keluarga.
Di balik seragam hijau yang selalu siap siaga, seringkali tersembunyi cerita tentang konflik batin yang dalam antara tugas negara dan keluarga di rumah. Kisah Sertu Hamzah Lubis dari Kodim 0117 Aceh Tamiang menjadi bukti nyata betapa beratnya pilihan yang harus diambil seorang prajurit, terutama saat bencana melanda. Pada November 2025, saat wilayahnya diterjang banjir dan longsor, Hamzah justru menghadapi musibah pribadi yang paling menghancurkan hatinya.
Pamitan Terakhir dan Gugur di Balik Reruntuhan
Sebelum kembali bertugas malam itu untuk membantu warga korban bencana di Aceh Tamiang, Sertu Hamzah sempat pamit kepada istrinya, Lelawani (39). Sang istri, dengan rasa cemas yang wajar sebagai seorang ibu yang ditinggal bersama kedua anaknya, mempertanyakan dengan protes halus mengapa suaminya harus pergi lagi padahal baru saja turun piket. Sebuah percakapan biasa dalam keluarga prajurit, di mana kekhawatiran dan dukungan sering kali bercampur. Namun, tak ada yang menduga bahwa itu adalah pamitan terakhir mereka. Beberapa jam setelah ia pergi, suara gemuruh longsor memecah kesunyian malam.
Sertu Hamzah dan rekan-rekannya langsung berlari ke arah sumber suara, yang ternyata berasal dari rumah dinasnya di belakang markas Kodim. Satu hal yang paling ditakutinya menjadi kenyataan. Material longsor telah menghancurkan rumah tempat istrinya dan kedua anak mereka berada. Dalam kepanikan dan keputusasaan, upaya penyelamatan dilakukan secepat mungkin, tetapi takdir berkata lain. Nyawa Lelawani tidak tertolong. Saat itu, seorang suami harus menerima kenyataan pahit bahwa ia kehilangan pendamping hidupnya di tengah kesibukannya menjalankan tugas untuk menyelamatkan orang lain.
Keteguhan Hati di Tengah Duka yang Mendalam
Rasa kehilangan yang begitu mendalam pasti menghantam setiap sudut hati Sertu Hamzah. Namun, dalam kesedihan yang tak terperi, dia menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Prioritasnya tetap tertuju pada tugasnya membantu korban bencana lainnya yang juga membutuhkan pertolongan. Dalam hati seorang prajurit, ada pemahaman bahwa di luar sana, masih banyak keluarga lain yang terpisah, panik, dan membutuhkan bantuan. Pengorbanan ganda ini—kehilangan istri tercinta sambil tetap bertugas—menggambarkan konflik batin yang sangat manusiawi dan menyentuh. Ini bukan tentang mengabaikan duka, tetapi tentang memilih untuk tetap berdiri di garis depan, meski hati sedang remuk redam.
Bagi keluarga prajurit, khususnya para istri seperti mendiang Lelawani, hidup adalah serangkaian kecemasan dan doa yang tak pernah putus. Setiap kali suami mereka pamit bertugas, terutama di tengah situasi bencana seperti longsor di Aceh Tamiang, ada beban tak terucap yang mereka tanggung sendirian di rumah. Mereka menjadi tulang punggung keluarga, mengasuh anak, sekaligus menahan rasa khawatir agar tidak menjadi beban tambahan bagi pasangannya. Kisah Lelawani yang meninggal dalam tragedi ini juga menyoroti bagaimana keluarga prajurit sering kali menghadapi risiko langsung dari lingkungan tempat mereka tinggal, yang terkadang sama berbahayanya dengan medan tugas sang prajurit.
Refleksi dari kisah ini mengajarkan kita tentang makna pengabdian yang sesungguhnya. Bukan hanya pengabdian seorang prajurit pada negara dan tugasnya, tetapi juga pengabdian seorang istri yang dengan setia mendukung pilihan suaminya, hingga titik akhirnya. Ketahanan emosional yang ditunjukkan oleh keluarga prajurit seperti ini adalah bentuk kekuatan luar biasa yang sering tidak terlihat. Mereka adalah pahlawan di balik pahlawan, yang siap mengorbankan kebersamaan, rasa aman, dan bahkan nyawa, demi sebuah panggilan yang lebih besar. Kisah Sertu Hamzah dan Lelawani mengingatkan kita semua, bahwa di balik seragam dan tugas mulia, ada hati manusia yang berdetak, yang rindu, yang cemas, dan yang sangat mencintai keluarganya.
Entitas yang disebut
Orang: Sertu Hamzah Lubis, Lelawani
Organisasi: Kodim 0117 Aceh Tamiang
Lokasi: Aceh Tamiang