Kisah TNI
Istri Wafat Akibat Longsor, Prajurit TNI Tetap Bertugas Pulihkan Aceh Tamiang
Sertu Hamzah Lubis menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan kembali bertugas membantu pemulihan Aceh Tamiang hanya tiga hari setelah memakamkan sang istri, Lelawani, yang wafat tertimbun longsor. Di tengah duka mendalam, ia memilih mendedikasikan tenaganya untuk warga terdampak, menggambarkan pengorbanan dan komitmen seorang prajurit di atas kepentingan pribadi. Kisah ini menyoroti sisi humanis keluarga prajurit yang kuat meski menghadapi ujian berat.
Tanggal 17 Januari menjadi hari yang tak terlupakan bagi keluarga Sertu Hamzah Lubis. Saat hujan deras mengguyur Aceh Tamiang, tanah longsor menerjang kompleks rumah dinas. Di dalam salah satu rumah itu, Lelawani (39) bersama anak-anaknya berusaha menyelamatkan diri. Ironisnya, di saat bencana alam melanda, sang suami justru berada di garis terdepan membantu warga lain yang terdampak. Ini adalah gambaran nyata pengorbanan keluarga seorang prajurit, di mana panggilan tugas sering kali harus mengalahkan keinginan untuk berada di samping orang tercinta saat mereka paling membutuhkan.
Panggilan Tugas di Tengah Bencana Keluarga
Hamzah sebenarnya sempat pulang ke rumah dari jadwal piketnya. Namun, begitu melihat skala bencana yang terjadi—jalan nasional terputus dan warga membutuhkan bantuan—ia merasa terpanggil untuk ikut membantu evakuasi. Dalam hati kecilnya, mungkin ada rasa lega karena keluarganya berada di rumah yang dianggap aman. Namun, takdir berkata lain. Suara jeritan panik putra sulungnya, Bintang, dari balik reruntuhan rumahnya sendiri, menggetarkan jiwa. Dengan sekuat tenaga dan hanya berbekal tangan kosong, Hamzah dan rekan-rekannya mengangkat puing-puing beton. Tangannya yang biasanya digunakan untuk membangun kembali infrastruktur, kini berusaha menyelamatkan nyawa anaknya sendiri. Saat Bintang berhasil ditarik keluar, harapan untuk menyelamatkan sang istri masih membara. Namun, Lelawani terjepit material berat dan baru bisa dievakuasi keesokan harinya. Dua sisi kehidupan seorang prajurit beradu: sebagai penyelamat bagi banyak orang, dan sebagai seorang suami yang tak berdaya menyelamatkan jantung hatinya.
Keputusan Berat di Atas Reruntuhan Duka
Hanya tiga hari setelah Lelawani dimakamkan, hati Hamzah dilanda pergolakan yang dalam. Di satu sisi, ada tangisan anak-anak yang kehilangan ibu. Di sisi lain, ada jeritan warga Aceh Tamiang yang masih membutuhkan bantuan. Dengan duka yang masih segar dan berat terpikul di pundak, ia menghadap komandannya. Bukan untuk meminta cuti panjang, melainkan untuk meminta izin kembali bertugas. Keputusannya ini bukan tanda bahwa ia tidak mencintai keluarganya. Justru, ini adalah puncak dari dedikasi yang luar biasa—sebuah keputusan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang terbiasa mengutamakan pelayanan di atas kepentingan pribadi. Ia memilih untuk mengalihkan kesedihannya menjadi tenaga untuk membangun kembali daerah yang juga meratap. Ia kembali ke lapangan, mengawal distribusi logistik, memastikan bantuan sampai kepada warga yang terdampak. Setiap batu yang ia angkat, setiap jalan yang ia buka, mungkin juga menjadi doa dan proses penyembuhan bagi luka di hatinya.
Di balik seragam hijau dan tugas mulia, Hamzah Lubis adalah seorang ayah yang kini harus menguatkan Bintang dan adik-adiknya. Ia adalah seorang suami yang harus belajar menjalani hidup tanpa pasangan. Pengorbanan yang dialami keluarga ini begitu nyata. Mereka kehilangan sosok istri dan ibu di saat sang kepala keluarga justru sedang menjalankan amanah untuk orang banyak. Kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap prajurit yang tangguh di medan tugas, ada sebuah keluarga yang juga memiliki hati yang bisa terluka, yang juga merindukan kehadiran, dan yang juga harus memiliki ketahanan emosional yang luar biasa. Dukungan dari sesama prajurit dan institusi TNI dalam momen-momen seperti ini menjadi sangat penting, menjadi keluarga besar yang menguatkan di saat keluarga inti sedang berduka.
Refleksi dari kisah Hamzah mengajarkan kita tentang makna pengabdian yang sebenarnya. Dedikasi bukan hanya tentang bekerja keras saat semua baik-baik saja, melainkan tentang tetap konsisten pada tugas meski hati sedang hancur berantakan. Ini adalah pelajaran tentang ketangguhan dan cinta. Cinta kepada bangsa yang diwujudkan dengan tindakan nyata, dan cinta kepada keluarga yang diwujudkan dengan meneruskan perjuangan hidup dengan penuh tanggung jawab. Semoga langkah Sertu Hamzah membawa kebaikan dan pemulihan bagi Aceh Tamiang, sekaligus menjadi jalan baginya dan anak-anaknya untuk menemukan kedamaian baru. Bagi kita semua, mari berempati dan memberi dukungan, karena setiap keluarga prajurit yang kuat, adalah fondasi dari bangsa yang tangguh.
Entitas yang disebut
Orang: Lelawani, Sertu Hamzah Lubis, Bintang
Organisasi: TNI
Lokasi: Aceh Tamiang