Kisah TNI

Istri dan Anak Prajurit Marinir Gugur di Cisarua Berpisah di Makam

28 Maret 2026 https://news.fin.co.id/2026/01/27/ayah-tidur-nak-tangis-istri-pecah-di-makam-praka-marinir-muhammad-kori-kisah-cinta-yang-terenggut-longsor-cisarua, https://lampung.tribunnews.com/lampung/1200524/tangis-istri-praka-marinir-kori-pecah-cium-foto-suami-di-atas-makam, http://www.kompas.com/jawa-barat/read/2026/01/27/143000288/praka-marinir-muhammad-kori-gugur-dalam-longsor-cisarua-sang-istri, https://kupastuntas.co/2026/01/27/prajurit-marinir-asal-lampung-timur-gugur-tertimbun-longsor-pemakaman-berlangsung-haru Lampung Timur; Cisarua, Bandung Barat

RINGKASAN

Praka Marinir Muhammad Kori gugur dalam musibah tanah longsor di Cisarua saat menjalani latihan pratugas untuk penugasan di perbatasan. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi istri dan ibunya, tetapi juga mengubur rencana sederhana membeli rumah dan hidup bersama. Kisah ini menyoroti sisi humanis di balik seragam prajurit, di mana pengorbanan keluarga di garis belakang—dalam bentuk harapan yang tertunda dan kecemasan yang ditanggung—sama besarnya dengan pengabdian sang prajurit, sebuah realitas yang dekat dengan banyak keluarga.

Istri dan Anak Prajurit Marinir Gugur di Cisarua Berpisah di Makam
Foto: AI Generated

Istri dan Anak Prajurit Marinir Gugur di Cisarua Berpisah di Makam

Di pemakaman itu, seorang ibu muda berbisik kepada anaknya yang berusia dua setengah tahun. "Ayah tidur, Nak," katanya dengan suara lirih, sambil menggenggam foto seorang lelaki berseragam biru. Anak kecil itu, berpakaian kuning, menatap sekeliling dengan polos. Kalimat sederhana itu adalah upaya pertama untuk membungkus kepergian yang pahit dengan bahasa kasih sayang—sebuah perlindungan untuk hati mungil yang belum memahami arti keabsenan. Momen yang penuh duka ini bukan sekadar adegan perpisahan, tetapi sebuah jendela kecil ke dalam dunia yang sering tak terlihat: dunia keluarga di balik seragam seorang prajurit, di mana cinta dan janji hidup berdampingan dengan pengabdian dan pengorbanan.

Gugur di Tengah Persiapan Menjaga Negeri

Praka Marinir Muhammad Kori gugur bukan di medan tempur, melainkan dalam sebuah musibah tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Saat itu, ia sedang menjalani latihan pratugas, sebuah persiapan menuju penugasan mulia di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Ia gugur justru ketika negara sedang mempersiapkannya untuk berdiri di garis terdepan.

Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke kampung halaman di Lampung Timur. Di Tempat Pemakaman Umum Dusun 9, Desa Kibang, ia dimakamkan dengan upacara militer yang khidmat. Rekan-rekan sesama prajurit memberikan penghormatan terakhir, sementara warga sekitar turut mengantarkan. Pada hari itu, yang dikuburkan bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga impian dan rencana sebuah keluarga kecil yang ikut terenggut bersamanya.

Rencana yang Tertinggal di Balik Duka

Di balik identitasnya sebagai seorang marinir, Praka Kori tetaplah seorang anak, seorang suami, dan seorang ayah. Kepergiannya meninggalkan luka yang dalam bagi dua pilar penting dalam hidupnya: sang istri dan ibunya.

Ibunda almarhum, Samrah, duduk di sudut pemakaman dengan mata sembab. Ia mengenang anaknya yang selama ini menjadi sandaran keluarga. "Sedih sekali… begitu dapat kabar, saya semalaman tidak bisa tidur," ujarnya. Samrah juga mengungkapkan rencana besar anaknya. Praka Kori berjanji akan membeli rumah di Lampung setelah pulang dari penugasannya di perbatasan. "Dia bilang nanti bapak ibu ikut tinggal dengannya," kenang sang ibu. Sebuah rencana sederhana tentang rumah bersama, sebuah impian untuk berkumpul, yang kini hanya tersisa sebagai kenangan.

Sementara itu, sang istri memikul beban ganda. Ia harus meratapi kepergian suami sekaligus menemukan kata-kata untuk menjelaskannya kepada anak mereka yang masih balita. Bisikan "Ayah tidur, Nak" di sisi makam adalah bentuk ketabahan dan perlindungan terlembut. Itu adalah upaya seorang ibu untuk melunakkan realitas yang keras bagi anaknya, meskipun hatinya sendiri remuk. Posisinya mewakili banyak istri prajurit yang harus kuat menahan rindu dan kecemasan, sambil menjaga kehidupan keluarga tetap berjalan di rumah.

Keluarga: Benteng Sunyi di Garis Belakang

Kisah ini menyoroti sebuah kebenaran yang sering luput: di balik setiap prajurit yang berangkat tugas, ada sebuah keluarga yang menahan napas. Mereka adalah pilar ketahanan yang sesungguhnya, benteng sunyi di garis belakang. Dukungan mereka tidak selalu terlihat nyata; ia berbentuk dalam kesabaran menunggu, keberanian menghadapi ketidakpastian, dan kekuatan untuk tersenyum lewat sambungan telepon meski hati dipenuhi cemas.

Hidup sebagai keluarga prajurit berarti hidup dengan rencana yang selalu bersyarat. Janji liburan, acara keluarga besar, bahkan janji makan malam bersama, bisa berubah atau tertunda karena panggilan tugas yang tiba-tiba. Mereka memahami bahwa pengabdian kepada negara seringkali berjalan beriringan dengan pengorbanan waktu kebersamaan. Namun, seperti yang terlihat dari rencana membeli rumah Praka Kori, cinta dan ikatan dalam keluarga itu tetaplah nyata dan mendalam. Ikatan itu terpatri dalam impian-impian bersama dan dalam bisikan lembut seorang ibu kepada anaknya di tengah kesedihan.

Ketika seorang prajurit gugur, negara memberikan penghormatan militer yang layak. Namun, luka yang paling dalam dan proses berduka yang paling panjang justru terjadi dalam ruang-ruang privat keluarga. Di meja makan yang kini memiliki satu kursi kosong. Di kamar anak yang menanti cerita pengantar tidur yang tak lagi datang. Di hati orang tua yang kehilangan sandaran masa tua. Mereka, para keluarga, yang kemudian harus belajar bangkit, menyusun kembali kehidupan dari puing-puing harapan, dan meneruskan langkah sambil membawa kenangan tentang sang pahlawan dalam hati.

Pengabdian yang Dirajut dari Dua Arah

Kisah Praka Marinir Muhammad Kori dan keluarganya adalah pengingat yang menyentuh. Pengabdian seorang prajurit pada hakikatnya adalah pengabdian seluruh keluarganya. Setiap latihan di lapangan, setiap keberangkatan ke penugasan, diikuti oleh untaian doa dan degup jantung yang berdebar dari rumah. Mereka adalah pihak pertama yang merasakan kelegaan saat kabar baik datang, dan yang paling merasakan pukulan ketika takdir berkata lain.

Di balik upacara kenegaraan yang khidmat, ada tangis seorang istri yang berusaha tegar. Ada tatapan bingung seorang anak yang mencari ayahnya. Ada pelukan seorang ibu yang kehilangan buah hati. Suara-suara dan luka-luka inilah yang perlu kita dengarkan dan hargai. Sebab, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya dibangun di medan latihan atau di perbatasan yang jauh. Ia juga dibangun dan diuji di ruang keluarga yang penuh cinta, di ruang tunggu yang penuh harap, dan di hati yang kuat meski penuh luka. Di sanalah, sisi humanis kehidupan prajurit yang sesungguhnya bersemi dan bertahan.

Entitas yang disebut

Orang: Praka Marinir Muhammad Kori, Samrah

Organisasi: Marinir

Lokasi: Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Lampung Timur, TPU Dusun 9 Desa Kibang Kecamatan Metro Kibang, Indonesia, Papua Nugini

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Bacaan terkait

Artikel serupa