Inspirasi

Guru Ngaji Anak-Anak Prajurit: Istri Letkol Ini Rela Mengajar Tanpa Dipungut Biaya Sejak 5 Tahun Lalu

19 April 2026 Cimahi, Jawa Barat 6 views

Di Cimahi, Ibu Ina, istri seorang Letkol, dengan tulus mengajar mengaji gratis untuk puluhan anak prajurit sejak lima tahun lalu, berawal dari kepeduliannya akan keterbatasan waktu orang tua mereka. Dengan dukungan penuh suaminya, inisiatifnya ini telah melahirkan hafiz cilik dan menjadi wadah positif yang menguatkan komunitas, mencerminkan bakti sosial dan ketahanan keluarga prajurit dari sisi humanis yang hangat.

Guru Ngaji Anak-Anak Prajurit: Istri Letkol Ini Rela Mengajar Tanpa Dipungut Biaya Sejak 5 Tahun Lalu

Setiap sore di sebuah kompleks perumahan militer TNI AD di Cimahi, teras rumah yang luas berubah menjadi ruang kelas yang penuh ketulusan. Puluhan anak berseragam muslimah dan peci, dengan semangat yang menggebu, datang ke sebuah rumah. Mereka adalah anak-anak prajurit, dan di teras itu, mereka tak hanya belajar membaca Al-Quran, tetapi juga menemukan pelukan kasih sayang dari seorang "Ibu" yang paham akan kesibukan orang tua mereka. Dia adalah Ibu Ina, istri dari seorang Letkol, yang dengan tangan terbuka telah menjadi guru ngaji tanpa memungut biaya sejak lima tahun silam. Ini adalah kisah tentang sebuah bakti sosial yang tumbuh dari empati seorang istri prajurit, melihat kebutuhan pendidikan agama anak-anak di lingkungannya.

Dari Lima Jadi Empat Puluh: Sebuah Bakti Sosial yang Tumbuh dari Kesadaran Hati

Awalnya, yang hadir hanya lima orang anak. Hati Ibu Ina tergerak melihat kondisi di sekelilingnya. Sebagai seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama dan juga bagian dari keluarga besar prajurit, dia memahami betul dinamika kehidupan di dalam kompleks ini. Orang tua, ayah atau ibu yang berdinas sebagai prajurit, kerap memiliki jadwal yang padat dan tak menentu. Ada yang harus berjaga, dinas luar kota, atau tugas panjang yang membuat waktu untuk mendampingi anak belajar agama menjadi terbatas. "Saya lihat banyak anak-anak yang mungkin kurang mendapat perhatian penuh untuk pendidikannya, khususnya pendidikan agama, karena kesibukan orang tuanya yang mengabdi," begitulah kira-kira perasaan yang melatari niat mulianya. Niat sederhana itu kini telah berkembang pesat. Dari lima anak, kelas mengajinya kini diikuti oleh empat puluh murid yang penuh semangat.

Dengan kesabaran yang luar biasa, Ibu Ina membimbing anak-anak itu satu per satu. Mulai dari mengenalkan huruf Hijaiyah di buku Iqra', hingga lancar membaca Al-Quran dengan tartil. Tak ada dinding sekolah yang resmi, hanya teras rumah yang teduh. Tak ada seragam khusus, hanya tekad yang sama. Dan yang paling utama, tak pernah ada sepeser pun biaya yang diminta. Bagi Ibu Ina, ini adalah sebuah bentuk pengabdian yang tulus. "Ini bentuk bakti saya," ujarnya dengan rendah hati, "sekaligus cara saya mendukung suami tercinta, dengan turut menjaga moral dan akhlak anak-anak prajurit lainnya di lingkungan kita." Ungkapan itu menyimpan filosofi yang dalam: dukungan seorang istri prajurit tidak hanya hadir di dalam rumahnya sendiri, tetapi merambah ke komunitas, memperkuat fondasi nilai-nilai baik di sekelilingnya.

Dukungan dari Belakang Layar: Keluarga sebagai Pilar Utama

Sebuah prakarsa baik seperti ini tentu tidak akan bertahan lama tanpa dukungan dari lingkaran terdekat. Dalam hal ini, suami Ibu Ina, sang Letkol, memberikan sokongan yang nyata dan penuh kebanggaan. Dukungan itu tidak hanya berupa restu, tetapi juga tindakan kongkrit. Beliau dengan ikhlas menyediakan ruang di rumahnya—yang mungkin bisa digunakan untuk keperluan keluarga lainnya—untuk berubah menjadi taman ilmu setiap sore. Tak hanya itu, konsumsi sederhana seperti air mineral dan kudapan kecil pun kerap disiapkan untuk menyambut anak-anak yang haus akan ilmu dan perhatian. Ini adalah gambaran nyata sinergi dalam keluarga prajurit; di mana pengabdian suami di medan tugas dijawab dengan kreativitas dan kepedulian istri di ranah sosial, dan keduanya saling menguatkan.

Hasil dari ketekunan dan cinta ini pun mulai terlihat jelas. Kelas mengaji sederhana ini ternyata telah menjadi tanah subur yang melahirkan bibit-bibit unggul. Beberapa hafiz dan hafizah cilik telah lahir dari teras rumah ini, membawa kebanggaan tersendiri bagi orang tua mereka yang sedang bertugas. Lebih dari sekadar tempat belajar baca tulis Al-Quran, kelas ini telah menjelma menjadi wadah positif yang sangat dibutuhkan. Di sini, anak-anak prajurit tidak hanya mendapat ilmu agama, tetapi juga ruang untuk bersosialisasi, bermain, dan merasakan keberadaan "keluarga besar" yang saling mendukung. Di tengah kemungkinan rasa rindu ketika ayah atau ibu bertugas jauh, mereka menemukan keteduhan dan kegiatan yang mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat.

Kisah Ibu Ina ini adalah cermin dari ketahanan dan kehangatan komunitas keluarga prajurit. Ia menunjukkan bahwa di balik seragam dan disiplin yang ketat, ada jantung yang berdetak penuh kasih sayang dan kepedulian. Pengorbanan seorang prajurit di garda terdepan ternyata beresonansi dengan pengorbanan lain di rumah: waktu untuk keluarga. Dan celah itu diisi dengan indah oleh inisiatif seperti ini. Bakti sosial dalam bentuk pendidikan agama yang gratis ini menjadi jembatan yang menguatkan ikatan antar keluarga, memastikan bahwa nilai-nilai luhur tetap terjaga pada generasi penerus, meskipun orang tua mereka sibuk mengabdi untuk negara. Akhirnya, teras rumah itu bukan lagi sekadar teras, melainkan simbol dari cinta yang berbagi, pengabdian yang meluas, dan harapan untuk masa depan anak-anak prajurit yang lebih baik, satu ayat demi satu ayat.

Bacaan terkait

Artikel serupa