Kisah TNI
Duka Keluarga Praka Kori, Anggota TNI AL Lampung Korban Longsor Cisarua
Praka Kori, anggota TNI AL Lampung, gugur dalam longsor saat latihan dan dimakamkan dengan penghormatan militer. Ia meninggalkan istri dan anak balita yang harus menjalani hidup dengan kenangan tentang sosok ayah yang penyayang dan bertanggung jawab. Cerita ini menyoroti pengorbanan tidak hanya dari prajurit, tetapi juga dari keluarga yang menanggung duka dan belajar terus berjalan dengan ketahanan baru.
Mereka datang dengan seragam lengkap, membawa penghormatan tertinggi bagi seorang prajurit yang telah gugur. Di tanah Lampung yang menjadi tempat kediamannya, jenazah Praka Kori disemayamkan dengan penuh kehormatan sebelum perjalanan akhirnya ke tempat pemakaman di Kabupaten Lampung Timur. Di tengah formasi yang rapi dan tembakan penghormatan, ada sebuah keluarga yang hati mereka tercabik-cabik. Seorang istri, seorang anak perempuan yang masih balita, dan seorang ibu yang harus melepaskan anaknya untuk selamanya.
Perjalanan Pengabdian yang Berakhir di Lereng Cisarua
Praka Kori, anggota TNI AL dari Batalyon Marinir Yonif 9 Beruang Hitam Lampung, bukan sedang bertugas di medan perang konvensional. Ia sedang mempersiapkan diri, melalui latihan, untuk sebuah tugas penting di perbatasan RI-Papua Nugini. Namun, takdir memanggilnya lebih awal. Longsor di Cisarua merenggut nyawanya, menghentikan langkah seorang prajurit muda yang masih memiliki impian panjang untuk keluarga dan bangsa. Gugur dalam latihan, sebuah fakta yang menggambarkan bahwa risiko dan pengorbanan seorang prajurit bisa datang dari segala medan, dalam segala situasi.
Kabar duka itu pasti telah mengguncang pondasi keluarga kecilnya. Sang istri, yang setiap hari mungkin menanti kabar baik dari latihan, harus menerima kabar paling buruk. Anak perempuan mereka yang masih balita, mungkin belum memahami kata "gugur", tetapi akan mulai merasakan kehilangan seorang ayah yang tidak lagi pulang membawa cerita atau pelukan. Dalam setiap keluarga prajurit, ada sebuah ketegangan antara harapan untuk keselamatan dan pemahaman tentang risiko profesi. Hari itu, risiko itu mengambil bentuknya yang paling nyata dan paling personal.
Isak Tangis di Liang Lahat dan Kenangan tentang Sosok Penyayang
Momen paling mengharukan, seperti yang diceritakan, adalah saat jenazah diturunkan ke liang lahat. Tembakan penghormatan membelah udara, tetapi yang lebih terdengar adalah isak tangis keluarga yang tak terbendung. Mereka melepas kepergian "ayah satu anak" itu dengan seluruh rasa yang tersisa: sedih, kehilangan, mungkin juga sedikit kebanggaan yang tercampur nestapa. Samrah, ibu almarhum, mengungkapkan kesedihan dan keikhlasannya. Kata "ikhlas" di sini bukan berarti tanpa luka, tetapi lebih sebuah penerimaan yang berat sebagai bagian dari keluarga yang memahami pilihan hidup anaknya sebagai seorang prajurit.
Dalam kenangan keluarga, Praka Kori bukan hanya angka di dalam barisan. Ia adalah sosok yang hidup dalam cerita mereka. "Dikenal sebagai sosok penyayang, bertanggung jawab, dan panutan bagi adik-adiknya," begitu gambaran yang tersisa. Kata-kata itu menggambarkan seorang manusia utuh: seorang prajurit di lapangan, seorang suami dan ayah di rumah, seorang anak dan saudara dalam keluarga besar. Ini adalah sisi humanis yang sering tersembunyi di balik seragam: mereka yang berangkat tugas juga membawa rindu pada anak balita, mereka yang berlatih juga membawa tanggung jawab untuk membimbing adik-adiknya.
Pemakaman Praka Kori mungkin telah resmi ditutup dengan tanah dan penghormatan militer. Namun, bagi istri dan anaknya, proses "melepas" mungkin akan berlangsung sangat panjang. Hari-hari berikutnya akan diisi dengan pertanyaan si kecil tentang ayahnya, dengan ruang rumah yang terdengar lebih sepi, dengan kenangan yang harus dirawat agar tidak pudar. Keluarga prajurit, seperti semua keluarga, memiliki reservoir ketahanan emosional. Mereka belajar untuk kuat, bukan karena tidak sedih, tetapi karena harus terus berjalan untuk menghidupi impian yang ditinggalkan almarhum.
Cerita Praka Kori dari Lampung ini mengingatkan kita pada sebuah lingkaran pengabdian yang sering tidak terlihat: dari prajurit di medan latihan atau tugas, hingga keluarga di rumah yang menanti dengan harap dan cemas. Gugurnya seorang prajurit adalah akhir sebuah perjalanan profesional, tetapi juga awal sebuah perubahan permanen dalam dinamika sebuah keluarga. Di sana, di Lampung Timur, sekarang ada sebuah anak perempuan yang akan tumbuh dengan cerita tentang ayahnya yang seorang prajurit. Dan di sana juga, ada sebuah keluarga yang harus menemukan kekuatan baru, membangun ketahanan baru, dengan mengikat kenangan tentang Praka Kori sebagai bagian dari fondasi hidup mereka selanjutnya.
Entitas yang disebut
Orang: Praka Kori, Samrah
Organisasi: TNI AL, Batalyon Marinir Yonif 9 Beruang Hitam Lampung
Lokasi: Kabupaten Lampung Timur, Cisarua, perbatasan RI-Papua Nugini