Keluarga
Duka dan Firasat Keluarga Prajurit TNI Korban Longsor Cisarua: Kami Sudah Tahlilan
Keluarga Pratu Marinir Febry Bramantyo menjalani duka yang dalam setelah ia menjadi korban longsor di Cisarua. Sebelum kabar pasti datang, mereka sudah merasakan firasat keluarga dan mengadakan tahlilan bersama sebagai bentuk harapan dan persiapan hati. Febry yang ramah dan sebagai putra sulung dikenang sebagai sosok teladan, meninggalkan ruang kosong yang harus diisi dengan kekuatan baru oleh seluruh keluarganya.
Di Bandar Lampung, akhir Januari 2026, kedatangan sebuah pesawat membawa lebih dari sekadar jenazah seorang prajurit. Ia membawa penutup sebuah pencarian panjang dan sekaligus awal dari babak baru dalam perjalanan duka sebuah keluarga besar. Pratu Marinir Febry Bramantyo, putra sulung mereka, akhirnya pulang. Ia adalah salah satu korban longsor yang menyelimuti kawasan Cisarua, mengakhiri tugasnya dengan cara yang tak pernah diduga. Di TPU Gang Jeruk, Tanjung Karang Barat, sanak saudara berkumpul, mengerahkan sisa tenaga untuk memberikan penghormatan terakhir dalam prosesi pemakaman prajurit yang khidmat. Namun, di balik urutan upacara yang formal, mengalir sebuah cerita yang jauh lebih lembut dan menyentuh—tentang ikatan yang tak terputus jarak, tentang persiapan hati seorang ibu, dan tentang cara sebuah keluarga memeluk harapan sembari bersiap untuk kabar terburuk.
Firasat Keluarga dan Kekuatan Doa Bersama
Haryanto, paman Febry, dengan suara yang tenang bercampur haru, membagikan sesuatu yang mungkin sering dirasakan tapi jarang diucapkan: kepekaan hati keluarga yang terhubung. Ia mengungkapkan bahwa jauh sebelum kabar pasti datang, di rumah mereka sudah ada sebuah firasat keluarga, sebuah rasa gelisah yang tak terbendung. "Kami di rumah sudah mengadakan yasinan, mengadakan tahlilan supaya keberadaannya ditemukan," kenang Haryanto. Kata-kata itu sederhana, namun punya kekuatan yang luar biasa. Ia menggambarkan bagaimana sebuah keluarga, meski terpisah ratusan kilometer dari lokasi longsor di Cisarua, hatinya ikut merasakan gejolak kecemasan yang sama. Ritual doa bersama itu menjadi lebih dari sekadar permohonan; ia menjadi ruang aman untuk saling menguatkan, mengolah ketakutan yang tak terucap, dan membangun ketahanan emosional bersama. Dalam banyak tradisi, tahlilan adalah ritual setelah kepergian. Namun bagi keluarga prajurit ini, ia dilakukan sebagai benteng pertahanan jiwa, sebuah cara untuk aktif berharap dan bersiap, menunjukkan betapa kuatnya naluri dan ikatan batin antara seorang anak yang bertugas dan keluarganya yang menunggu di rumah.
Pemakaman prajurit pun terasa berbeda. Ia bukan sekadar proses menguburkan jasad, melainkan juga sebuah upaya memberikan ketenangan dan kepastian bagi keluarga yang telah lama dilanda kecemasan. Setiap tahapan upacara seolah menjawab doa-doa yang telah mereka panjatkan berhari-hari. Duka yang mereka rasakan adalah duka yang kompleks—ada rasa sedih yang mendalam, tetapi juga mungkin ada sedikit kelegaan karena pencarian telah usai. Prosesi itu menjadi momen penting untuk mulai menutup luka, untuk mulai menerima bahwa pahlawan mereka telah pulang untuk selamanya.
Sosok Febry: Kenangan Ramah Sebagai Penghibur di Tengah Duka
Di sela-sela kesedihan, kenangan indah tentang Febry hadir sebagai cahaya penghangat. Keluarga mengenangnya sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul, seorang anak yang membawa keceriaan. Bagi seorang ibu, mendengar anaknya digambarkan seperti itu adalah kebanggaan tersendiri, sekaligus sumber kerinduan yang tak terperi. Mereka tahu, anak yang ramah dan baik hati itu memilih jalan hidup sebagai prajurit, menghadapi dunia yang keras demi pengabdian. Setiap senyum dan kebaikan Febry di masa lalu kini menjadi harta karun yang paling berharga, kenangan yang akan terus mereka rawat.
Sebagai putra sulung dari empat bersaudara, kepergian Febry meninggalkan ruang kosong yang bukan hanya bersifat personal, tetapi juga struktural dalam keluarga. Seorang sulung seringkali menjadi tumpuan harapan, teladan bagi adik-adik, dan penopang bagi orang tua. Kehilangannya berarti keluarga harus belajar berdinamika dengan cara baru. Orang tua tidak hanya kehilangan seorang anak, tetapi juga kehilangan seorang partner dalam mengasuh adik-adiknya. Adik-adik Febry pun kini harus tumbuh tanpa kehadiran kakak yang biasanya menjadi pelindung dan panutan. Luka ini pasti terasa sangat dalam, dan proses penyembuhannya akan menjadi perjalanan panjang yang harus ditempuh bersama-sama, dengan saling menguatkan dan mengingat semua pelajaran baik yang ditinggalkan Febry.
Kisah Febry Bramantyo dan keluarganya ini adalah cermin jernih dari kehidupan keluarga prajurit Indonesia. Ia menunjukkan bahwa meski fisik terpisah oleh jarak dan tugas, ikatan batin antara seorang prajurit dan keluarganya tak pernah terputus. Firasat, doa, dan kecemasan adalah bahasa cinta mereka yang tak terucap. Pengabdian seorang prajurit seperti Febry tidak hanya terjadi di medan tugas, tetapi juga di dalam hati keluarganya yang dengan gigih menunggu, berdoa, dan tetap tegar di rumah. Mereka adalah pahlawan tanpa seragam yang ketahanan emosionalnya sama kuatnya dengan ketangguhan prajurit di lapangan. Dalam setiap duka yang mereka tanggung, terkandung makna cinta, pengorbanan, dan sebuah kebanggaan mendalam yang akan terus hidup, jauh lebih abadi dari rasa sakit kehilangan.
Entitas yang disebut
Orang: Pratu Marinir Febry Bramantyo, Haryanto
Organisasi: TNI
Lokasi: Bandar Lampung, Cisarua, TPU Gang Jeruk, Tanjung Karang Barat