Keluarga

Duka dan Firasat Keluarga Prajurit TNI Korban Longsor Cisarua

14 April 2026 Bandar Lampung 2 views

Keluarga Pratu Marinir Febry Bramantyo di Bandar Lampung menyambut kepulangan terakhir sang prajurit, korban longsor Cisarua, dengan duka mendalam. Sebelumnya, mereka telah mengadakan tahlilan sebagai bentuk doa dan ikhtiar saat kabar bencana datang, mencerminkan ketegangan dan harapan khas keluarga prajurit. Kisah ini mengingatkan betapa pengabdian seorang prajurit tak lepas dari pengorbanan dan ketahanan emosional keluarganya di rumah.

Duka dan Firasat Keluarga Prajurit TNI Korban Longsor Cisarua

Kediaman sederhana di Bandar Lampung pada Rabu (22/5) pagi dipenuhi oleh sebuah keheningan yang dalam. Suasana hening itu pecah oleh tangis haru ketika ambulans yang membawa Pelepasan terakhir untuk Pratu Marinir Febry Bramantyo akhirnya tiba. Jenazah sang prajurit, yang menjadi salah satu Korban Longsor di Cisarua, Jawa Barat, telah menyelesaikan perjalanan panjangnya untuk pulang. Keluarga, sanak saudara, dan rekan-rekan telah menunggu dengan perasaan campur aduk: harap-harap cemas yang akhirnya berujung pada kepastian yang paling pahit. Ini adalah momen yang paling ditakuti oleh setiap keluarga prajurit—saat anak, suami, atau ayah mereka pulang bukan dengan senyum kemenangan, melainkan dalam keheningan abadi.

Firasat dan Doa di Tengah Kabar Buruk

Haryanto, paman almarhum, dengan suara bergetar mengisahkan tentang Firasat Keluarga yang kuat. Begitu kabar bencana longsor di lokasi pelatihan prajurit tersiar, sebuah kegelisahan yang tak tertahankan langsung menyergap. "Sejak ada informasi bencana, hati kami sudah tidak tenang," ucapnya. Tanpa menunggu lama, keluarga besar segera berkumpul. Mereka tidak hanya pasif menunggu kabar, tetapi aktif mengirimkan doa. Sebuah tradisi spiritual yang kukuh, yaitu mengadakan acara Yasinan dan Tahlilan, mereka lakukan. Setiap untaun doa, setiap ayat yang dibacakan, adalah ikhtiar batin mereka agar putra sulung keluarga itu, Febry, dapat ditemukan dengan selamat. "Kami berdoa, berikhtiar lewat doa bersama, supaya Febry bisa ditemukan," kenang Haryanto. Ritual doa bersama ini menjadi pelipur sekaligus benteng bagi keluarga dalam menghadapi ketidakpastian yang mencekam.

Febry Bramantyo bukan sekadar nama di daftar korban. Ia adalah seorang anak, seorang sahabat, dan seorang prajurit muda yang penuh semangat. Dalam ingatan keluarganya, ia melekat sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, dan selalu meninggalkan kesan hangat. Ia adalah putra sulung yang dibanggakan, yang memilih jalan pengabdian kepada negara. Pilihan hidupnya itulah yang membuat setiap kepergiannya untuk tugas atau pelatihan selalu diiringi doa dan kerinduan dari rumah. Kehidupan keluarga prajurit seringkali diwarnai oleh kecemasan yang terselubung di balik kebanggaan. Setiap telepon yang tak diangkat, setiap kabar bencana dari daerah latihan, langsung menyentuh naluri paling dalam seorang ibu, ayah, atau istri.

Pelepasan Penuh Haru dan Kenangan

Prosesi duka pun berlangsung dengan khidmat. Setelah jenazah dishalatkan, keluarga, teman, dan rekan-rekan satu kesatuannya diberi kesempatan untuk penghormatan terakhir. Mungkin ini adalah momen tersulit bagi orang tua Febry: melihat wajah anak mereka untuk terakhir kalinya, mengucapkan selamat jalan yang teramat berat. Dari kediaman duka, iring-iringan kemudian membawa almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Gang Jeruk. Pelepasan ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah kenangan yang akan abadi dikenang. Setiap nisan, setiap doa yang dipanjatkan di sana, akan menjadi saksi bisu akan pengorbanan seorang pemuda dan duka sebuah keluarga yang merelakan anaknya untuk negara.

Kisah Febry dan keluarganya adalah sebuah fragmen dari ribuan kisah serupa di negeri ini. Ia mencerminkan ketegangan dan harapan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keluarga besar TNI. Menanti kabar adalah sebuah ujian kesabaran yang luar biasa. Di balik seragam yang gagah, ada orang tua yang menunggu di rumah, ada istri yang membesarkan anak seorang diri, ada anak yang merindukan pelukan ayahnya. Tradisi spiritual seperti Tahlilan dan doa bersama menjadi mekanisme pertahanan emosional mereka. Itu adalah cara mereka tetap kuat, cara mereka merasa tetap terhubung dan berusaha, ketika yang bisa dilakukan hanyalah berpasrah dan berharap.

Kembalinya Febry dalam kondisi yang tak diharungkan meninggalkan luka yang dalam. Namun, dalam duka yang mendalam itu, terpancar juga kekuatan sebuah keluarga. Kekuatan untuk bersatu dalam doa, untuk saling mendukung dalam kehilangan, dan untuk tetap menghormati pilihan pengabdian sang anak. Mereka merelakan kepergian, merasakan duka, tetapi juga menyimpan kebanggaan atas jalan hidup yang dipilih Febry. Inilah sisi humanis yang sering tersembunyi: pengabdian seorang prajurit selalu berdampingan dengan pengorbanan dan ketabahan keluarganya di rumah. Cinta, doa, dan kenangan indah tentang seorang anak yang ramah dan baik hati, itulah yang akan terus hidup, jauh lebih kuat daripada rasa pedih karena longsor yang merenggutnya.

Entitas yang disebut

Orang: Febry Bramantyo, Haryanto

Organisasi: TNI, Marinir

Lokasi: Bandar Lampung, TPU Gang Jeruk, Cisarua

Bacaan terkait

Artikel serupa