Inspirasi
Dari Asrama Menjadi Pengusaha: Istri Prajurit Raih Omset Jutaan Berkat Pelatihan Ekonomi Kreatif TNI
Dari kecemasan ditinggal suami bertugas, Sinta, seorang istri prajurit, bangkit melalui pelatihan anyaman rotan dan kini meraih omset jutaan rupiah dari usaha kecilnya. Program pemberdayaan TNI ini tak hanya menciptakan kemandirian finansial, tetapi juga merajut solidaritas hangat di antara para istri, sekaligus memberi ketenangan bagi suami yang bertugas di medan.
Di sudut asrama yang sederhana di Makassar, jemari Sinta menari lincah di antara helai rotan. Anyaman demi anyaman ia bentuk menjadi tas dan wadah cantik, sesekali matanya menerawang ke foto suami yang terpajang di dinding. Dulu, tangannya hanya akrab dengan sapu dan piring kotor—kini, dari tangan yang sama, lahir usaha kecil yang memberinya arti baru sebagai seorang istri prajurit. “Saya tidak menyangka omset bisa sampai Rp7 juta sebulan. Ini sangat membantu biaya sekolah anak,” bisiknya, seakan masih tak percaya bahwa kecemasan yang dulu menggerogoti hari-harinya kini berganti menjadi senyum penuh syukur.
Dari Gelisah Menanti, Menjadi Mandiri Berkarya
Seperti banyak istri prajurit lainnya, Sinta akrab dengan rasa was-was yang datang saat Serka Joko, sang suami, meninggalkan rumah untuk tugas negara. Hari-hari terasa panjang, diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyelinap di tengah malam: bagaimana jika uang belanja kurang? Bagaimana jika anak tiba-tiba sakit saat suami tak bisa dihubungi? Kegelisahan itu pernah begitu nyata, membuat ruang-ruang kecil di rumah dinas terasa mencekam. Namun semuanya perlahan berubah ketika ia mengikuti Pelatihan Keterampilan dan Kewirausahaan yang diadakan oleh Dinas Pembinaan Mental Kodam XIV/Hasanuddin. Program pemberdayaan ini memang dirancang khusus untuk membekali para istri dengan keterampilan anyaman rotan, pemasaran daring, dan pengelolaan keuangan. Bagi Sinta, inilah titik balik yang tak hanya mengisi waktu luang, tetapi juga menumbuhkan kembali rasa percaya diri yang sempat layu. Kini, alih-alih bergelut dengan sunyi, ia sibuk menyusun strategi penjualan dan melayani pelanggan setia—sebuah transformasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Solidaritas di Balik Anyaman
Yang lebih hangat dari sekadar rupiah adalah ikatan persaudaraan yang tumbuh di antara para istri prajurit. Di sudut-sudut asrama, mereka tak lagi sendiri; tangan-tangan yang dahulu gemetar memegang rotan kini saling merangkul. Mereka berbagi pola anyaman, bertukar tips menjual lewat media sosial, bahkan bahu-membahu mengantar paket bersama. Suatu sore, ketika seorang ibu kebingungan karena pesanan mendadak datang sementara ia harus mengantar anaknya ke dokter, Sinta dan dua temannya sigap membantu menyelesaikan anyaman. “Kami sudah seperti saudara. Sama-sama tahu rasanya ditinggal suami dinas, sama-sama ingin anak-anak kita punya masa depan cerah,” ujar Sinta dengan senyum tulus. Usaha kecil ini bukan lagi sekadar soal uang—ia telah menjelma menjadi ruang saling menguatkan, tempat air mata dan tawa bercampur, tempat setiap perempuan menemukan bahwa mereka tidak pernah benar-benar sendiri.
Bagi Serka Joko, perubahan pada istrinya adalah jawaban atas doa-doa yang selalu ia panjatkan sebelum berangkat tugas. Dulu, ada gundah yang tak pernah bisa ia tepis sepenuhnya: apakah istri dan anak-anaknya baik-baik saja? Apakah beban di pundak mereka terlalu berat? Kini, melihat Sinta yang cekatan mengelola bisnis kecilnya, menghasilkan jutaan rupiah setiap bulan, dadanya terasa lapang. “Saya bisa fokus bertugas tanpa beban berlebihan. Melihat dia mandiri, saya bangga sekali. Ini bukan hanya tentang uang, tapi tentang istri saya yang tumbuh jadi perempuan kuat,” cerita Serka Joko, suaranya bergetar menahan haru. Ketenangan itu adalah anugerah tak ternilai—kini, setiap langkah di medan tugas dijalani dengan hati yang lebih ringan, karena ia tahu di rumah ada seorang perempuan tangguh yang menjaga segalanya dengan penuh cinta.
Kisah Sinta dan puluhan istri lain di asrama itu mengingatkan kita bahwa di balik seragam loreng para prajurit, ada hati-hati yang berdetak dalam sunyi, menjaga rumah tangga dengan kekuatan yang sering tak terlihat. Pemberdayaan semacam ini bukan sekadar memberi keterampilan, melainkan merajut kembali asa dan martabat. Di setiap anyaman rotan, tersimpan cerita tentang cinta yang tak pernah menyerah, tentang usaha kecil yang tumbuh menjadi bukti bahwa keluarga prajurit adalah fondasi kokoh bagi pengabdian kepada negeri. Sebab, saat para istri berdaya, para prajurit pun pulang ke rumah dengan hati yang utuh—dan dari sanalah kekuatan sejati bermula.
Entitas yang disebut
Orang: Sinta, Joko
Organisasi: TNI AD, Disbintal Kodam XIV/Hasanuddin, Kodam XIV/Hasanuddin
Lokasi: Makassar