Beranda / Ekonomi / BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,25% untuk Tekan Inflasi...
Ekonomi

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,25% untuk Tekan Inflasi Inti

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,25% untuk Tekan Inflasi Inti

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25% pada RDG Maret 2026 untuk mengendalikan inflasi inti yang masih di atas target, yang didorong oleh harga pangan-energi global dan penyesuaian administrasi domestik. Ekonomi Indonesia dinilai resilien dengan pertumbuhan terjaga di kisaran 5,1-5,3% didukung konsumsi dan investasi, serta stabilitas Rupiah yang terjaga. BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan mengoptimalkan operasi moneter untuk menjaga stabilitas makro dan mendukung intermediasi ke sektor produktif.

Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate pada level 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan pada bulan Maret 2026. Keputusan kebijakan moneter ini sesuai dengan ekspektasi mayoritas analis pasar yang telah memprediksi bank sentral Indonesia akan menjaga suku bunga dalam upaya mengendalikan laju inflasi. Gubernur BI menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas harga, terutama dengan fokus pada inflasi inti yang masih menunjukkan tekanan dan berada di atas batas atas kisaran target yang ditetapkan.

Langkah mempertahankan suku bunga di level saat ini mencerminkan pendekatan hati-hati dari BI dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik. Bank sentral menilai bahwa tekanan inflasi terutama bersumber dari volatilitas harga komoditas pangan dan energi di pasar global, yang ditransmisikan ke dalam ekonomi Indonesia. Selain itu, penyesuaian administrasi di dalam negeri, seperti kenaikan harga bahan bakar dan tarif listrik yang terkendali, juga turut memberikan kontribusi terhadap tekanan harga. Dengan mempertahankan suku bunga acuan, BI berupaya untuk mengelola ekspektasi inflasi dan mencegahnya agar tidak terus melaju.

Dukungan terhadap Pertumbuhan Ekonomi yang Resilien

Di balik fokus pada pengendalian inflasi, BI juga menyoroti ketahanan perekonomian domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap terjaga dalam kisaran 5,1 hingga 5,3%, didorong terutama oleh kekuatan konsumsi rumah tangga dan investasi yang solid. Stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama yang memungkinkan bank sentral untuk fokus pada ancaman inflasi tanpa harus terlalu khawatir akan membebani pertumbuhan. BI mencatat bahwa permintaan domestik tetap kuat, menjadi penopang utama pertumbuhan di tengah ketidakpastian permintaan eksternal.

Stabilitas nilai tukar Rupiah juga menjadi poin penting yang diawasi. Meskipun terdapat berbagai ketidakpastian eksternal, seperti perubahan kebijakan moneter bank sentral negara maju dan gejolak geopolitik, Rupiah terpantau terjaga dengan baik. Stabilitas ini didukung oleh kebijakan moneter yang tepat, intervensi yang efektif, serta aliran masuk modal asing yang masih positif ke instrumen keuangan Indonesia. Stabilitas mata uang sangat krusial untuk menjaga tekanan inflasi dari sisi impor dan menciptakan kepastian bagi pelaku usaha.

Koordinasi Kebijakan dan Langkah ke Depan

Untuk memastikan efektivitas kebijakan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Sinergi antara otoritas fiskal dan moneter ini dianggap vital untuk menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan dan mendukung terciptanya pertumbuhan yang berkualitas serta berkelanjutan. Koordinasi mencakup pengelolaan inflasi, terutama dari sisi pasokan pangan dan energi, melalui kebijakan yang tepat dari Kementerian terkait.

Di sisi operasional, BI menyatakan akan terus melaksanakan langkah-langkah pengendalian likuiditas dan optimalisasi operasi moneter. Tujuannya adalah untuk memastikan likuiditas di pasar keuangan tetap memadai dan tersalurkan secara optimal ke sektor-sektor produktif yang dapat mendorong pertumbuhan. Intermediasi perbankan diharapkan dapat terus mengalir ke bidang usaha yang menciptakan nilai tambah tinggi, mendukung transformasi struktural perekonomian. Kebijakan suku bunga yang dipertahankan ini menjadi sinyal bahwa BI tetap waspada dan siap menyesuaikan kebijakannya jika risiko terhadap stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi mengalami perubahan di masa mendatang.

Tokoh: Gubernur BI Organisasi: Bank Indonesia, BI, Rapat Dewan Gubernur